By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
MediaInternasional.comMediaInternasional.comMediaInternasional.com
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
    • Home 2
    • Home 3
    • Home 4
    • Home 5
  • Posts
    • Post Layouts
    • Gallery Layouts
    • Video Layouts
    • Audio Layouts
    • Post Sidebar
    • Review
      • User Rating
    • Content Features
    • Table of Contents
  • Pages
    • Blog Index
    • Contact US
    • Search Page
    • 404 Page
    • Customize Interests
    • My Bookmarks
  • Join Us
Reading: Budi Raharjo Ganti Circle, Ganti Arah Hidup
Share
Font ResizerAa
MediaInternasional.comMediaInternasional.com
Search
  • Home
    • Home News
    • Home 2
    • Home 3
    • Home 4
    • Home 5
  • Categories
  • Bookmarks
    • Customize Interests
    • My Bookmarks
  • More Foxiz
    • Blog Index
    • Sitemap
Have an existing account? Sign In
Follow US
MediaInternasional.com > Blog > France24 > Budi Raharjo Ganti Circle, Ganti Arah Hidup
France24

Budi Raharjo Ganti Circle, Ganti Arah Hidup

admin
Last updated: 17/09/2026 16:17
admin Published 17/09/2026
Share
Budi Raharjo Ganti Circle, Ganti Arah Hidup
SHARE

Media Internasional — Ganti Circle, Ganti Arah Hidup

Ada orang yang ingin mengubah hidupnya, tetapi tetap tinggal di lingkungan yang membuat hidup lamanya terasa normal. Ia ingin lebih maju, tetapi setiap kali punya gagasan baru, orang-orang terdekatnya berkata, “Sudahlah, jangan macam-macam.”

Ia ingin mencoba bisnis, dibilang terlalu berisiko. Ingin belajar sesuatu yang baru, dianggap sok pintar.

Ingin keluar dari pekerjaan yang tidak disukai, ditakut-takuti soal keamanan. Akhirnya ia tidak jadi melakukan apa-apa. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena terlalu sering mendengar bahwa dirinya tidak mampu.

Di sinilah pengaruh lingkungan bekerja dengan cara yang sangat halus. Orang-orang di sekitar kita tidak harus menyuruh kita berhenti. Cukup dengan membuat sebuah batas terlihat wajar, kita sendiri yang kemudian menjaganya.

Kalau semua orang di sekitar menganggap penghasilan tertentu sudah cukup, kita pun mungkin berhenti bertanya bagaimana meningkatkan kemampuan.

Kalau semua orang takut gagal, keberanian mencoba sesuatu yang baru akan terlihat seperti kegilaan.

Padahal manusia memang mudah menyesuaikan diri. Kita menyerap cara orang terdekat menggunakan waktu, uang, tenaga dan kesempatan.

Kita belajar bagaimana mereka menghadapi masalah. Kita mendengar bagaimana mereka berbicara tentang masa depan. Bahkan tanpa sadar, kita bisa mewarisi batas ambisi mereka.

Karena itu, ketika hidup terasa stagnan, jangan hanya bertanya, “Apa yang kurang dari saya?” Tanyakan juga, “Siapa yang paling sering memengaruhi cara saya berpikir?”

Ini bukan berarti kita harus mencari teman yang kaya atau terkenal. Jangan sampai circle berubah menjadi katalog jabatan.

Orang yang mempunyai banyak uang belum tentu mempunyai banyak kebijaksanaan.

Orang yang terkenal belum tentu mempunyai sesuatu yang layak ditiru. Bahkan orang yang hidup sederhana bisa memberikan pelajaran yang jauh lebih mahal daripada seminar motivasi.

Yang penting adalah apakah lingkungan itu memperluas atau mempersempit cara kita melihat dunia.

Bertemu dengan orang yang berbeda pengalaman sering membuka pintu yang sebelumnya tidak terlihat.

Kita bertemu seseorang yang menjalankan usaha dan baru sadar bahwa pekerjaan tidak harus selalu ditukar dengan jam kerja. Kita berbicara dengan orang yang lebih berpengalaman dan menemukan bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan biaya belajar.

Kita bertemu orang yang berpikir berbeda dan dipaksa memeriksa kembali keyakinan sendiri.

Tiba-tiba muncul satu kalimat kecil: “Oh, ternyata bisa begitu.”

Kalimat itu kadang lebih berharga daripada motivasi panjang.

Ada teori populer bahwa kita banyak dipengaruhi oleh lima orang yang paling dekat dengan kita. Angka lima tentu bukan hukum alam. Hidup manusia terlalu rumit untuk dihitung sesederhana itu.

Pendidikan, kesempatan, modal, kondisi ekonomi, keterampilan dan keberuntungan juga ikut menentukan perjalanan seseorang. Tetapi gagasan besarnya patut direnungkan: lingkungan membentuk standar.

Kita sulit menginginkan sesuatu yang tidak pernah kita lihat.

Karena itu, mengubah circle bukan berarti membuang teman lama. Teman yang menemani kita ketika susah tetap mempunyai tempat yang tidak bisa digantikan oleh jaringan profesional mana pun. Kita tidak perlu memutus pertemanan hanya karena ingin berkembang. Yang perlu dilakukan adalah memperluas lingkaran.

Tambahkan orang yang membuat kita berpikir. Tambahkan orang yang berani berbeda pendapat. Tambahkan orang yang sudah berjalan lebih jauh. Tambahkan pula orang yang pernah gagal, karena pengalaman gagal sering kali merupakan buku yang ditulis dengan harga sangat mahal.

Dan jangan selalu mencari ruangan tempat kita merasa paling pintar. Kalau setiap kali berkumpul kita selalu menjadi orang yang paling tahu, mungkin kita bukan sedang hebat. Mungkin kita sedang berada di ruangan yang salah.

Namun ada satu jebakan lain: mengira perubahan lingkungan berarti harus meniru kehidupan orang lain. Belajar dari pengusaha sukses tidak berarti besok membeli mobilnya. Itu bukan transformasi, itu cicilan. Yang perlu dipelajari adalah cara berpikirnya, cara mengambil keputusan, cara mengelola risiko, cara membangun jaringan dan cara bangkit ketika salah.

Sebab bekerja keras saja tidak selalu cukup. Kalau seseorang berjalan cepat ke arah yang salah, ia hanya akan lebih cepat sampai di tempat yang keliru.

Maka sesekali periksalah meja tempat kita duduk. Apa yang dibicarakan? Apa yang kita bawa pulang setelah bertemu mereka: gagasan atau gosip, keberanian atau ketakutan, semangat belajar atau alasan untuk menyerah?

Ukuran lingkungan yang baik bukanlah berapa banyak orang sukses di dalamnya. Ukurannya sederhana: setelah bergaul dengan mereka, kita menjadi manusia seperti apa?

Kalau kita menjadi lebih ingin belajar, pertahankan. Kalau menjadi lebih berani mencoba, dekatilah. Kalau menjadi lebih rendah hati, jangan dilepas.

Dan kalau hidup terasa tidak bergerak, jangan buru-buru mengganti sepatu. Periksa dulu siapa yang berjalan bersama kita. Bisa jadi kaki kita tidak bermasalah. Bisa jadi kita hanya terlalu lama mengikuti rombongan yang memang tidak sedang menuju ke mana-mana.

Mengubah circle bukan tentang meninggalkan orang lain. Ini tentang memperluas kemungkinan hidup kita sendiri.

Kadang masa depan tidak dimulai dengan keputusan besar. Ia dimulai ketika kita duduk di meja yang berbeda, mendengar percakapan yang berbeda, lalu untuk pertama kalinya berani bertanya:

“Kalau ternyata bisa, bagaimana caranya?”

Tambahkan langkah praktis yang konkret

 

You Might Also Like

Rumah Karya Sjuman Mempersembahkan Nada di Balik Tubuh, Babak Baru Perjalanan Artistik Kreativität Dance

Ketua DPD RI Sultan Najamudin Secara Resmi Melepas Tim Pelajar U-17 Badan Liga Sepak Bola Pelajar Indonesia

A Legacy on the Move: Menier Cognac Resmi Debut di Indonesia

How Migration Is Reshaping Borders and Policies

Global Trade Wars: Winners, Losers, and Long-Term Effects

Share This Article
Facebook Twitter Email Print

Categories

  • ES Money
  • U.K News
  • The Escapist
  • Insider
  • Science
  • Technology
  • LifeStyle
  • Marketing

About US

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet.

Subscribe US

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?