By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
MediaInternasional.comMediaInternasional.comMediaInternasional.com
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
    • Home 2
    • Home 3
    • Home 4
    • Home 5
  • Posts
    • Post Layouts
    • Gallery Layouts
    • Video Layouts
    • Audio Layouts
    • Post Sidebar
    • Review
      • User Rating
    • Content Features
    • Table of Contents
  • Pages
    • Blog Index
    • Contact US
    • Search Page
    • 404 Page
    • Customize Interests
    • My Bookmarks
  • Join Us
Reading: Ketua DPD RI Sultan Najamudin Secara Resmi Melepas Tim Pelajar U-17 Badan Liga Sepak Bola Pelajar Indonesia
Share
Font ResizerAa
MediaInternasional.comMediaInternasional.com
Search
  • Home
    • Home News
    • Home 2
    • Home 3
    • Home 4
    • Home 5
  • Categories
  • Bookmarks
    • Customize Interests
    • My Bookmarks
  • More Foxiz
    • Blog Index
    • Sitemap
Have an existing account? Sign In
Follow US
MediaInternasional.com > Blog > France24 > Ketua DPD RI Sultan Najamudin Secara Resmi Melepas Tim Pelajar U-17 Badan Liga Sepak Bola Pelajar Indonesia
France24

Ketua DPD RI Sultan Najamudin Secara Resmi Melepas Tim Pelajar U-17 Badan Liga Sepak Bola Pelajar Indonesia

Ketua DPD RI Sultan Najamudin Secara Resmi Melepas Tim Pelajar U-17 Badan Liga Sepak Bola Pelajar Indonesia

Redaksi
Last updated: 23/03/2026 05:50
Redaksi Published 23/03/2026
Share
SHARE

Media Internasional.com — Di halaman rumah dinas Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, kawasan Kuningan, Jakarta, Minggu pagi, 22 Maret 2026, suasana tak sekadar seremoni. Ada harapan yang dititipkan, ada pesan yang melampaui garis lapangan.

Ketua DPD RI, Sultan Baktiar Najamudin, melepas tim pelajar U-17 Badan Liga Sepak Bola Pelajar Indonesia (BLiSPI) untuk berlaga di turnamen internasional Mikasa Cup dan Volt Eleven International 2026 di Bangkok. Namun yang dilepas bukan hanya sebuah tim—melainkan representasi kecil dari wajah Indonesia di mata dunia.

Sultan tidak berdiri sebagai pejabat yang memberi sambutan formal. Ia berbicara sebagai seseorang yang memahami narasi besar di balik olahraga. Baginya, sepak bola bukan sekadar permainan, melainkan bahasa universal yang mampu menembus batas geografis dan politik.

“Sepak bola adalah salah satu bentuk diplomasi tertinggi sebuah negara. Respek dan kehormatan suatu bangsa bisa hadir hanya karena bola,” ujarnya.

Pernyataan itu terasa relevan di tengah dunia yang semakin terhubung namun juga terfragmentasi. Dalam konteks ini, sepak bola hadir sebagai soft power—alat diplomasi yang halus, tetapi efektif.

Fondasi yang Tak Boleh Rapuh

Di balik optimisme itu, Sultan menyoroti persoalan lama yang belum sepenuhnya selesai: fondasi pembinaan sepak bola nasional yang belum kokoh.

Ia menekankan pentingnya sistem kompetisi berjenjang yang dimulai dari akar rumput—dari desa hingga provinsi. Bukan sekadar jargon, melainkan kebutuhan mendesak untuk menciptakan ekosistem yang sehat.

“Tidak ada pemenang tanpa kompetisi yang kuat. Fondasi harus dibangun dari bawah—desa, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi,” katanya.

Dalam lanskap sepak bola Indonesia yang tengah berbenah, peran organisasi seperti BLiSPI menjadi krusial. Mereka hadir bukan hanya sebagai penyelenggara kompetisi pelajar, tetapi juga sebagai jembatan antara potensi lokal dan panggung nasional—bahkan internasional.

Lebih dari Sekadar Permainan

Sultan melihat sepak bola sebagai ruang pertemuan nilai: disiplin, kerja sama, dan sportivitas. Di tengah riuhnya perbedaan sosial dan politik, olahraga justru menawarkan kesederhanaan—tentang tujuan bersama dan perjuangan kolektif.

“Sepak bola adalah pemersatu bangsa. Bahkan pada titik tertentu menjadi industri besar. Tapi yang masih kurang adalah fokus memupuk bibit muda,” ujarnya.

Pesan itu ia pertegas dengan sentuhan reflektif. Mengutip filsuf militer Tiongkok, Sun Tzu, ia mengingatkan bahwa semangat adalah setengah dari kemenangan—sisanya ditentukan di lapangan.

Bagi para pemain muda, kalimat itu bukan sekadar motivasi, melainkan pengingat bahwa perjalanan mereka baru saja dimulai.

Bangkok: Panggung Kecil, Harapan Besar

Turnamen di Bangkok mungkin hanya satu dari sekian banyak kompetisi internasional. Namun bagi tim U-17 ini, ia adalah panggung pertama untuk menguji kemampuan—dan keberanian.

Lebih dari itu, ia adalah bagian dari proses panjang membangun generasi baru pesepak bola Indonesia.

Sebagai bentuk dukungan, Sultan bahkan menjanjikan penyambutan khusus saat tim kembali ke Tanah Air—lengkap dengan apresiasi bagi mereka yang berprestasi.

“Kebanggaan orang tua adalah anak yang berprestasi. Dan orang tua kalian bukan hanya keluarga, tetapi juga bangsa dan negara,” katanya.

Pelepasan ditandai dengan penyerahan jersey secara simbolis. Hadir dalam kesempatan itu Senator Lampung Bustami Zainudin, legenda sepak bola nasional Rully Nere, serta jajaran pengurus BLiSPI.

Namun di luar seremoni, ada satu pesan yang mengendap: masa depan sepak bola Indonesia tidak ditentukan oleh satu pertandingan, melainkan oleh keseriusan membangun dari bawah.

Dari lapangan tanah di desa-desa, menuju gemerlap stadion dunia—sebuah perjalanan panjang yang, seperti sepak bola itu sendiri, selalu dimulai dari satu tendangan

You Might Also Like

A Legacy on the Move: Menier Cognac Resmi Debut di Indonesia

How Migration Is Reshaping Borders and Policies

Global Trade Wars: Winners, Losers, and Long-Term Effects

Cybersecurity Becomes the New Frontline of Global Conflict

Foreign Aid Sparks Debate Over Motives and Impact

Share This Article
Facebook Twitter Email Print

Categories

  • ES Money
  • U.K News
  • The Escapist
  • Insider
  • Science
  • Technology
  • LifeStyle
  • Marketing

About US

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet.

Subscribe US

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?