MediaInternasional.com — Menulis Prabowo, Membaca Indonesia
Catatan S.S. Budi Raharjo tentang Kekuasaan, Kepemimpinan, dan Dua Wajah Bangsa
Oleh waktu, seorang pemimpin biasanya dikenang lewat keputusan-keputusan besar. Namun oleh seorang jurnalis, seorang pemimpin sering kali diingat melalui hal-hal yang jauh lebih kecil: jeda sebelum menjawab pertanyaan, cara menatap lawan bicara, atau kalimat sederhana yang terlontar tanpa naskah.
Bagi S.S. Budi Raharjo, pengamat sosial, Pemimpin Redaksi Majalah Matra, sekaligus CEO Majalah Eksekutif, memahami seorang presiden tidak cukup dilakukan dari balik meja redaksi. Kepemimpinan harus dibaca dari dekat, melalui percakapan, pengamatan, dan kesediaan mendengarkan apa yang sering luput dari sorotan publik.
Dalam perjalanan panjangnya meliput tokoh-tokoh nasional, satu nama yang berulang kali menjadi objek kajiannya adalah Prabowo Subianto.
Bukan semata karena Prabowo kini menduduki kursi presiden. Melainkan karena figur itu menyimpan paradoks yang menarik bagi seorang jurnalis: seorang mantan jenderal yang dikenal keras, tetapi kerap memperlihatkan sisi personal yang hangat; seorang politikus yang terbiasa berbicara tegas, namun dalam banyak kesempatan justru menunjukkan kerendahan hati yang tidak selalu tertangkap kamera.
Budi Raharjo pernah mewawancarai Prabowo secara langsung. Dalam percakapan itu, yang muncul bukan sekadar narasi politik atau strategi kekuasaan. Ia melihat seorang manusia yang berbicara tentang bangsa dengan bahasa yang sederhana, nyaris tanpa ornamen.
“Prabowo sering terlihat sebagai sosok yang keras karena latar belakang militernya,” tulisnya dalam salah satu catatan. “Tetapi ketika berbicara mengenai rakyat kecil, petani, atau masa depan Indonesia, nada suaranya berubah. Ada sesuatu yang personal di sana.”
Bagi Budi, wawancara bukan sekadar mengumpulkan kutipan. Wawancara adalah usaha memahami karakter.
Karena itu, ia tidak hanya menulis apa yang dikatakan Prabowo, tetapi juga berusaha membaca mengapa kalimat itu diucapkan.
Di ruang publik, kekuasaan sering tampil sebagai panggung. Semua orang berbicara. Semua orang ingin didengar. Namun tugas seorang pengamat sosial justru mencari makna di balik keramaian itu.
Ketika Prabowo menyampaikan pidato-pidato kenegaraan, Budi Raharjo tidak hanya memperhatikan isi pidato. Ia mengamati pesan yang tersembunyi di antara paragraf-paragraf resmi.
Salah satu analisis yang banyak mendapat perhatian adalah ketika ia mengulas pidato presiden di hadapan DPR.
Dalam pembacaannya, Indonesia sedang menghadapi dua wajah sekaligus.
Wajah pertama adalah Indonesia yang tumbuh pesat: kota-kota yang menjulang, investasi yang meningkat, teknologi yang bergerak cepat, dan optimisme pembangunan yang terus didorong pemerintah.
Wajah kedua adalah Indonesia yang masih bergulat dengan persoalan lama: kemiskinan, ketimpangan wilayah, akses pendidikan, hingga keterbatasan layanan kesehatan.
Menurut Budi, tantangan terbesar seorang presiden bukan sekadar mempercepat pertumbuhan. Tantangan sebenarnya adalah menjahit dua wajah Indonesia itu agar tidak saling menjauh.
“Negara tidak boleh hanya menjadi rumah bagi mereka yang sudah sampai,” tulisnya. “Negara juga harus menjadi kendaraan bagi mereka yang masih berjuang untuk tiba.”
Kalimat itu menjadi salah satu benang merah dalam berbagai analisisnya mengenai pemerintahan Prabowo.
Sebagai jurnalis, Budi Raharjo memahami bahwa sejarah tidak pernah dibangun hanya oleh pendukung atau penentang. Sejarah dibentuk oleh mereka yang bersedia mencatat dengan jujur.
Karena itu, tulisannya tidak berhenti pada pujian. Ia juga mengingatkan bahwa legitimasi politik selalu diuji oleh hasil nyata.
Kepemimpinan, dalam pandangannya, bukan tentang popularitas yang tinggi atau sorak-sorai yang panjang. Kepemimpinan adalah kemampuan menjawab persoalan yang paling sulit ketika tepuk tangan telah berhenti.
Di sinilah peran jurnalisme menjadi penting.
Bukan sebagai pengeras suara kekuasaan.
Bukan pula sebagai pemburu kesalahan semata.
Melainkan sebagai cermin yang memantulkan kenyataan apa adanya.

