Virus corona mengamuk, Inggris kerek status London menjadi risiko tinggi


ILUSTRASI. Seorang wanita mengenakan masker pelindung saat dia berjalan, di tengah penyebaran penyakit virus corona (COVID-19), di Brixton, London, Inggris, 21 September 2020.

Sumber: Reuters | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID – LONDON. Pemerintah Inggris akan memberlakukan pembatasan sosial yang lebih ketat di London untuk mengekang penyebaran virus corona baru, Menteri Kesehatan Matt Hancock mengumumkan di parlemen pada Kamis (15/10).

Status Ibu Kota Inggris berpopulasi 9 juta jiwa akan berada di “tingkat 2” atau “risiko tinggi” dalam sistem peringatan tiga tingkat, naik dari “tingkat 1” atau “risiko menengah”.

“Kami bersama-sama sepakat bahwa London perlu beralih ke tingkat peringatan COVID-19 lokal tinggi,” kata Hancock seperti dikutip Reuters.

London, yang juga ibu kota keuangan internasional dunia, akan memasuki penguncian yang lebih ketat mulai Jumat (16/10) tengah malam, ketika Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berusaha untuk mengatasi gelombang kedua virus corona yang semakin tinggi.

Kemarahan, bagaimanapun, meningkat karena biaya ekonomi, sosial, dan kesehatan dari pembatasan kebebasan terbesar sejak masa perang. Seorang mantan penasihat pemerintah memperingatkan, beberapa orang akan segera mengalami masalah dalam memenuhi kebutuhan anak mereka.

Baca Juga: Mimpi buruk Eropa: Kasus harian corona lampaui AS, jam malam diberlakukan

Hancock menyatakan, daerah Essex yang berdekatan dengan London dan padat penduduk, juga akan berada pada tingkat siaga “tinggi”.

Dampak utama dari status “risiko tinggi” adalah orang tidak dapat bertemu dengan rumahtangga lain secara sosial di dalam ruangan dalam acara apa pun, misalnya, di rumah atau restoran. “Perjalanan harus dikurangi jika memungkinkan,” ujar Hancock.

“Segalanya akan menjadi lebih buruk sebelum menjadi lebih baik,” sebut Hancock. “Tapi saya tahu bahwa ada langit yang lebih cerah dan laut yang lebih tenang di depan, kecerdikan sains akan menemukan jalan untuk melaluinya dan sampai saat itu kita harus bersatu”.

Inggris melaporkan rekor harian kasus virus corona pada 4 Oktober lalu, dengan jumlah infeksi mencapai 22.961. Padahal, saat gelombang pertama virus corona menerjang, negeri Ratu Elizabeth II hanya mencatat kasus harian tertinggi di kisaran 6.000.

 





Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

KontraS Kembali Kritisi Kekerasan Aparat terhadap Demonstran UU Cipta Kerja

Jum Okt 16 , 2020
SURABAYA, JAWA TIMUR (VOA) —  Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Surabaya menyesalkan terjadinya kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian, terhadap peserta aksi unjuk rasa penolakan pengesahan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja di Surabaya, pada 8 Oktober lalu. Koordinator KontraS Surabaya, Rahmat Faisal, mengatakan telah terjadi penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang lewat sejumlah kekerasan, penangkapan, teror, dan intimidasi yang dilakukan aparat kepolisian terhadap massa yang berunjuk rasa. Polisi menangkap lebih […]