Terinspirasi AS, Dua Desa Indonesia Bangun Perpustakaan Mini Gratis

  • Bagikan


Ada lebih dari 100.000 perpustakaan mini yang terdaftar sebagai “Little Free Library” di 108 negara, paling banyak di AS. Perpustakaan yang mengusung konsep pinjam dan sumbang buku sesuka hati ini, juga ada di Indonesia, meskipun jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari. VOA melaporkan tentang tiga orang Indonesia yang membangun Little Free Library dan dampaknya terhadap komunitas mereka.

Dari kejauhan, sebuah kotak berwarna hijau yang disangga kayu dan terpasang di sebuah rumah di negara bagian Illinois, terlihat seperti kotak surat. Namun, apabila dilihat lebih dekat, ternyata struktur yang berdiri sejak 2016 ini adalah sebuah perpustakaan mini berisi belasan buku dari berbagai genre yang bisa dipinjam secara gratis.

Pendirinya adalah Alfred Ticoalu, diaspora Indonesia di kota Mount Prospect. Hampir setiap hari, pria 43 tahun ini mengecek apakah bukunya perlu ditambah atau sekedar merapikan. Seringkali dia juga menerima dan menyortir sumbangan buku. Sebelum memasukkan buku ke dalam kotak itu, Alfred akan mengecapnya dengan tulisan: “Always a Gift, Never for Sale,” yang berarti: “Untuk Disumbangkan, Bukan Untuk Dijual.” Di atas kotak itu, Alfred juga menyediakan sebuah toples berisi biskuit anjing.

Toples berisi biskuit anjing diletakkan di atas Little Free Library di Mount Prospect, Illinois. (Courtesy: Alfred Ticoalu)

Toples berisi biskuit anjing diletakkan di atas Little Free Library di Mount Prospect, Illinois. (Courtesy: Alfred Ticoalu)

“Karena orang di sini suka bawa anjingnya jalan keluar kan. Dengan kami taruh disitu, banyak sekali orang-orang mampir, ambil treat itu buat anjingnya. Pada saat bersamaan anjingnya lagi makan, orang itu buka library kita, dia lihat ‘”oh, ini isinya.'” Kalau tertarik, dia ambil bukunya,” ujarnya kepada VOA.

Little Free Library Merambah ke Desa di Indonesia

Di AS, Little Free Library seperti ini sudah jadi pemandangan biasa di permukiman, terutama di kota-kota besar. Tapi tidak demikian di Indonesia.

Itulah yang mendorong Nining Dwi Astuti untuk menghadirkannya di desa tempat dia tinggal dan bekerja di Wonosobo.

“Awalnya kenapa persiapannya sampai setahun karena jujur aku agak ragu ya. Bisa ngga ya ini diadaptasi di Indonesia, gitu? Apakah aku terlalu mengawang-awang karena mencontoh yang di Amerika sana, gitu.”

Little Free Library di Desa Jolontoro, Wonosobo berdiri sejak September 2020 di depan sebuah rumah warga dengan cat senada. Courtesy Nining Dwi Astuti.

Little Free Library di Desa Jolontoro, Wonosobo berdiri sejak September 2020 di depan sebuah rumah warga dengan cat senada. Courtesy Nining Dwi Astuti.

Di desa Jolontoro sebenarnya ada perpustakaan umum, tapi tak banyak dikunjungi warga. Perempuan yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil ini kemudian menawarkan konsep Little Free Library kepada pengurus desa, dan mendapat sambutan positif.

“Kita bingung waktu itu mau pasang di mana, trus ada salah satu warga yang merelakan dengan sukarela rumahnya. ‘”Dipasang depan rumah saya aja, nanti sekalian saya awasin,'” gitu. Sampai dia ngecat rumahnya biar nuansanya sama,” cerita Adening kepada VOA.

Adening mengatakan kehadiran Little Free Library sejak September 2020 di desanya telah membantu membuka jalan bagi upaya pemberdayaan masyarakat, khususnya anak-anak yang sekolahnya terkendala karena pandemi.

“Di desa kan internet susah, banyak ngga punya internet di rumah. Mereka pakai kuota. Kuotanya juga terbatas. Kebetulan di rumah itu kita inisiatif buat pasang wifi. Jadi kalau pagi orang-orang pada pinjam buku, malamnya anak-anak kecil belajar di situ.”

Pada malam hari anak-anak mendatangi Little Free Library di desa Jolontoro, Wonosobo untuk menggunakan wi-fi gratis dan belajar. Courtesy Nining Dwi Astuti.

Pada malam hari anak-anak mendatangi Little Free Library di desa Jolontoro, Wonosobo untuk menggunakan wi-fi gratis dan belajar. Courtesy Nining Dwi Astuti.

Perputaran Buku Tak Seimbang di Desa

Idealnya Little Free Library tidak hanya memberi ruang bagi masyarakat untuk meminjam buku secara gratis, tapi juga menyumbang buku, sehingga terjadi perputaran buku yang stabil. Namun, situasi ini agak sulit diwujudkan di tempat di mana tingkat literasi masyarakat masih rendah.

Sekarang ini, Adening di Wonosobo masih mengandalkan buku-buku sumbangan dari berbagai organisasi untuk mengisi perpustakaan mini yang diberi nama Ngesti Rahayu tersebut. Bahkan, perpustakaan umum yang sepi pengunjung di desa itu juga meminjamkan beberapa bukunya.

Ari Hendra Permana, yang mendirikan Little Free Library di teras rumahnya di desa Rawajaya, Cilacap, juga selalu memutar otak supaya perpustakaan sederhananya terus berjalan. Apalagi sejak didirikan pada 2019, Little Free Library-nya telah menjadi tempat berkumpulnya anak-anak.

"Little Free Library" desa Rawajaya, Cilacap berdiri sejak November 2019 dan terdaftar sebagai bagian dari organisasi Little Free Library yang berpusat di AS. Courtesy Ari Hendra Permana.

“Little Free Library” desa Rawajaya, Cilacap berdiri sejak November 2019 dan terdaftar sebagai bagian dari organisasi Little Free Library yang berpusat di AS. Courtesy Ari Hendra Permana.

“Buku kalau dibaca anak-anak itu ternyata cepat sekali rusak… Tidak apa-apa, akhirnya dikasih solusi. Yang pada lepas sampulnya kita ganti dengan kertas kalender. Bertahan sebentar, lama-lama (mereka) bosan karena hampir semuanya sudah dibaca.”

Apabila tak mendapat donasi buku, maka laki-laki yang berprofesi sebagai guru pendidikan jasmani ini dengan sukarela merogoh kantong untuk membeli bacaan bekas di pasar malam.

“Namun, ada kekurangannya juga. Buku yang di pasar malam itu cacat. Misalnya begini, buku kan depannya sampul, buka itu bukan halaman pertama, tapi halaman terakhir. Nah halaman pertamanya gimana? Dibalik, kaya Al-Quran begitu, bukanya ke kiri. Mayoritas seperti itu, dijual Rp20.000 tiga. Menurut saya ngga masalah, saya yakin ngga akan diprotes anak-anak.”

Meski halamannya tak beraturan, tapi buku-buku yang diborongnya malam itu tetap diminati oleh anak-anak. Namun sejak pandemi virus corona, pasar malam yang biasa didatanginya itu tutup, dan Hendra tak bisa lagi membeli buku-buku bekas murah untuk perpustakaannya.

Di Illinois AS, Alfred mengaku tak pernah mengalami masalah perputaran buku. Di tengah pandemi virus corona pun tetap banyak orang yang mampir untuk mengambil ataupun menyumbang buku. Tapi kini ia menerapkan protokol kesehatan.

“Meningkatkan kebersihan dari perpustakaan tersebut. Jadi kita pakai wipes, sterile wipes, kita lap sedikit, dan buku-bukunya itu kita semprot sedikit dengan Clorox.”

Dampak Little Free Library bagi Masyarakat

Merawat perpustakaan hingga mengatur perputaran buku adalah tugas dari seorang “steward” atau pengelola Little Free Library, seperti yang dijalankan secara sukarela oleh Alfred di AS, serta Hendra dan Adening di Indonesia.

Terlepas dari berbagai tantangan yang dihadapi selama ini, ketiganya sepakat bahwa ini adalah peran yang sangat bermanfaat dan membahagiakan. Hendra mengaku bangga bisa membantu meningkatkan literasi di desanya.

“Ada anak belajar membaca dengan diucapkan sangat keras sekali. Contoh; Kan-cil ma-kan, itu keras sekali. Jadi itu membuat saya puas sekali, belajar di tempat saya.”

Anak-anak belajar membaca dengan buku dan majalah anak-anak di desa Rawajaya, Cilacap. Courtesy Ari Hendra Permana.

Anak-anak belajar membaca dengan buku dan majalah anak-anak di desa Rawajaya, Cilacap. Courtesy Ari Hendra Permana.

Sementara bagi Alfred, Little Free Library membantu menciptakan lingkungan yang kekeluargaan.

“Membuka pintu perkenalan kepada orang-orang yang tinggal di sekitar rumah kami.”

Little Free Library adalah sebuah organisasi nirlaba berbasis di negara bagian Wisconsin, AS yang bertujuan meningkatkan literasi, memperluas akses buku dan membangun masyarakat.

Sejak dimulai di Hudson, Wisconsin pada 2009, perpustakaan kecil mini itu dengan cepat menyebar ke seluruh AS dan akhirnya ke seluruh dunia. [vm/em]



Source link

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *