Studi Ungkap Kekayaan Kehidupan Laut di Dekat Khatulistiwa Terdampak Perubahan Iklim


Selama beberapa musim panas, saat suhu air di Karibia naik, koloni karang berwarna emas, hijau, dan biru yang mengelilingi negara kepulauan Kuba berubah menjadi seputih tengkorak.

Garis-garis warna ikan tropis yang melesat semakin jarang berkedip. Suara serak lobster menjadi hening.

Meskipun kehidupan laut Kuba telah terdampak polusi dan penangkapan ikan yang berlebihan, tapi terdapat banyak bukti bahwa pemanasan perairan akibat perubahan iklim mungkin menimbulkan banyak korban juga, baik di lepas pantai maupun secara global.

Penelitian yang dipublikasikan Senin (5/4) menemukan bahwa jumlah total spesies perairan terbuka di zona laut tropis di seluruh dunia menurun sekitar setengahnya dalam 40 tahun hingga 2010. Dalam kurun waktu tersebut, suhu permukaan laut di daerah tropis naik hampir 0,2 derajat Celcius.

Seorang penyelam tengah menyelam di International Diving Centre Maria la Gorda, semenanjung Guanahacabibes, provinsi Pinar del Rio, Kuba, 10 Juni 2015. (AP)

Seorang penyelam tengah menyelam di International Diving Centre Maria la Gorda, semenanjung Guanahacabibes, provinsi Pinar del Rio, Kuba, 10 Juni 2015. (AP)

Salah satu penulis studi, Chhaya Chaudhary, pakar biogeografi di Universitas Goethe, mengatakan, “perubahan iklim telah memengaruhi distribusi keanekaragaman spesies laut,” dengan perubahan yang lebih dramatis terjadi di belahan bumi utara di mana perairan menghangat lebih cepat.

Sementara banyak faktor, seperti penangkapan ikan berlebihan telah memengaruhi spesies tropis, studi yang diterbitkan “Proceedings of the National Academy of Sciences” menemukan korelasi kuat antara penurunan spesies dan kenaikan suhu.

Para peneliti menemukan keanekaragaman spesies ikan cenderung menurun, baik di dataran tinggi ataupun di daerah yang bersuhu di atas 20 derajat Celcius.

Sekejap Mata

Sementara studi sebelumnya menunjukkan bahwa pemanasan laut mendorong beberapa spesies untuk bermigrasi ke perairan yang lebih dingin, studi baru mencoba mengukur dampak yang lebih luas, menganalisis data pada 48.661 spesies laut, termasuk ikan, moluska, burung, dan karang sejak 1955.

Data tersebut merupakan sampel representatif dari 20 persen dari semua spesies laut yang hidup di perairan terbuka dan di dasar laut, seperti karang dan spons, kata para peneliti.

Penelitian melihat jumlah spesies yang menempel di dasar laut tetap stabil di daerah tropis antara tahun 1970-an dan 2010. Beberapa juga ditemukan di luar daerah tropis, menunjukkan bahwa mereka telah memperluas wilayah jelajahnya.

Para penyelam melakukan transplantasi karang di titik yang rusak akibat gempa dan tsunami tahun 2004, dekat pulau Weh, provinsi Aceh, 18 Juni 2008. (Foto: AP)

Para penyelam melakukan transplantasi karang di titik yang rusak akibat gempa dan tsunami tahun 2004, dekat pulau Weh, provinsi Aceh, 18 Juni 2008. (Foto: AP)

Dengan kata lain, kata para ilmuwan, spesies yang bisa bergerak sedang berpindah. “Dalam sejarah geologi, hal ini terjadi dalam sekejap mata,” kata Sebastian Ferse, ahli ekologi di Leibniz Center for Tropical Marine Research yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut. “Melihat perubahan seperti itu terjadi begitu cepat adalah sesuatu yang cukup mengkhawatirkan.”

Untuk spesies tetap seperti karang, berpindah bukanlah suatu pilihan. “Salah satu pertanyaan besarnya adalah ‘Pada saat ekosistem dan karang sebagai spesies dapat bergerak ke utara atau selatan, apakah terumbu karang dapat cepat menyesuaikan diri dengan perubahan iklim?’,” kata Ferse.

Terumbu Karang Kuba

Gerombolan ikan dan spesies perenang lainnya yang dengan cepat berpindah ke perairan yang lebih beriklim sedang, dapat merusak ekosistem karang yang mereka tinggalkan. Hal tersebut juga berdampak pada industri perikanan dan pariwisata yang bergantung padanya.

Perubahan semacam itu “dapat berdampak sangat besar pada beberapa komunitas manusia yang paling rentan di planet ini,” kata Stuart Pimm, ilmuwan konservasi di Duke University yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

Bagi Kuba, dampak seperti itu dapat berpengaruh pada upaya negara kepulauan itu untuk mengelola taman bawah airnya, meski pun dibandingkan negara lain, terumbu karang di Kuba tidak terlalu terpengaruh oleh pembangunan pesisir dan polusi. Mereka dianggap lebih tahan terhadap pemanasan laut.

Koloni karang di pantai Havana, Kuba, 27 Maret 2021. (REUTERS / Sarah Marsh)

Koloni karang di pantai Havana, Kuba, 27 Maret 2021. (REUTERS / Sarah Marsh)

“Sungguh mengesankan kembali ke daerah yang (karangnya) mengalami pemutihan yang signifikan pada tahun sebelumnya, tetapi setahun kemudian terlihat sangat sehat,” kata Daniel Whittle, yang mengepalai program Karibia di Environmental Defense Fund.

Kuba membuka pembibitan terumbu karang pertamanya pada empat tahun lalu untuk meneliti spesies mana yang paling baik dalam mengatasi pemanasan dan akhirnya mengisi kembali terumbu yang sudah menipis. Negara ini juga memulihkan bakau pesisir, yang berfungsi sebagai tempat pembibitan dan perlindungan ikan.

Selanjutnya Chaudhary dan rekan-rekannya berencana untuk melihat spesies tropis mana yang menurun atau sedang bermigrasi. [ah/au,es]



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Pasangan AS Gelar Konser Virtual untuk Danai Dapur Umum

Rab Apr 7 , 2021
Sepasang suami istri di Amerika Serikat, yang sering mempertunjukkan keterampilan musik mereka di berbagai penjuru dunia, baru-baru ini menggelar konser virtual. Konser itu merupakan pertunjukan amal yang pendapatan sepenuhnya disumbangkan untuk membantu orang-orang di kota New York, yang kesulitan semasa pandemi. Erin Shields masih belum bisa melupakan kejutan tidak menyenangkan soal pembatalan pertunjukan musiknya tahun lalu. Tidak hanya satu, melainkan sekitar 65 kontrak kerja sama untuk tampil di berbagai penjuru […]