Repost Internasional: Beritasenator.com – Konvergensi Majalah MATRA

  • Bagikan
banner 468x60


banner 336x280

Indonesia menilai bahwa ancaman senjata nuklir masih nyata dan memicu perlombaan senjata nuklir.

Hal ini disampaikan Menteri Luar Negeri RI Retno L.P. Marsudi dalam General Conference (GC) ke-65 Badan Energi Atom Dunia, IAEA, di Wina, Austria (20/9).

Dalam pernyataan nasional yang disampaikan melalui video tersebut, Menlu RI juga menyebut bahwa tenaga nuklir seyogyanya dimanfaatkan kemaslahatan umat manusia di masa depan.

IAEA diminta memainkan peran mempromosikan nuklir untuk tujuan damai, termasuk dengan menyebarkan ilmu pengetahuan nuklir kepada negara berkembang, melalui program technical cooperation, dengan tujuan untuk memajukan negara berkembang dan Kerja Sama Selatan-Selatan

Menlu Retno mengapresiasi penghargaan yang diberikan Organisasi Pangan Dunia (FAO) dan Badan Atom Energi Dunia (IAEA) bagi Indonesia berupa Outstanding Achievement Award di bidang pemuliaan mutasi tanaman dan Biotechnologi yang menyertainya.

Penghargaan ini merupakan kali kedua Indonesia menerima penghargaan serupa. Atas peran Kelompok Peneliti Pemuliaan Tanaman Pangan (PAIR).

Yang sejak tahun 2013 telah berpengalaman mengembangkan teknologi nuklir di sektor dan berhasil menciptakan 23 ragam baru padi. Sebelumnya Indonesia menerima penghargaan pada 2014.

Menlu Retno juga menegaskan bahwa kemampuan Teknik nuklir tidak terbatas, termasuk dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi pandemi saat ini, dan juga pandemi di masa depan.

Wakil Tetap RI di Wina, Duta Besar Dr. Darmansjah Djumala, menjadi Ketua Delegasi pada pertemuan yang juga diikuti K/L terkait seperti BAPETEN dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang mengikuti persidangan secara virtual dari Jakarta.

Konferensi Badan Energi Atom Dunia ke-65 ini berlangsung hingga 24 September 2021.

GC merupakan Konferensi tahunan di Markas PBB Wina sejak tahun 1956 yang diselenggarakan bagi negara-negara anggota IAEA untuk menentukan arah kebijakan IAEA dalam menjamin penggunaan energi dan teknologi nuklir semata-mata untuk tujuan damai.

****

 

  • Indonesia Gaet Penghargaan Badan Pangan Dunia (FAO) dan Badan Atom Dunia (IAEA) di Wina, Austria

Kiprah Indonesia dalam pengembangan pangan dengan teknologi nuklir mendapat penghargaan tertinggi dari Badan Pangan Dunia (FAO) dan Badan Atom Dunia (IAEA).

Outstanding Achievement Award tersebut disampaikan oleh Dirjen IAEA kepada Duta Besar / Watap RI untuk PBB, Dr. Darmansjah Djumala.

Penghargaan tersebut dianugerahkan kepada Indonesia yang aktif mendorong para peneliti yang tergabung dalam Kelompok Pemuliaan Tanaman Bidang Pertanian, BATAN.

Pemberian award ini dilaksanakan dalam rangkaian persidangan IAEA General Conference ke-65 bertempat di Markas PBB Wina, Austria hari ini (20/09).

“Dunia saat ini dihadapkan pada tantangan serius, yaitu perubahan iklim dan ancaman terhadap ketahanan pangan,” kata Dirjen IAEA, Rafael Mariano Grossi, dalam pembukaannya.

“Upaya mencari solusi bersama perlu terus dilakukan masyarakat global, diantaranya melalui pemanfaatan teknologi nuklir oleh para pakar nuklir di banyak negara yang mengembangkan varietas tanaman unggul baru,” masih papar Rafael.

Penganugerahan penghargaan merupakan kontribusi IAEA, bersama dengan Badan Pangan Dunia (FAO) dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi nuklir dalam bidang pangan.

Dirjen FAO, Qu Dongyu, juga mengakui kontribusi nyata teknologi nuklir terhadap ketahanan pangan global dan akan terus mendukung peningkatan kapasitas para peneliti bidang pangan dalam rangka mendukung keberlanjutan riset mutasi radiasi yang sangat bermanfaat.

Dubes Djumala dalam kesempatan tersebut menggarisbawahi bahwa Indonesia, melalui kiprah para peneliti nuklir bidang pertaniannya, telah menunjukkan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi nuklir untuk pengembangan varietas unggul tanaman pangan, yang berkontribusi signifikan pada penguatan ketahanan pangan nasional.

”Penghargaan ini tunjukkan bahwa program penguatan kapasitas SDM teknologi nuklir yang dirintis IAEA dan bersama FAO telah berikan manfaat nyata pada penguatan kapasitas SDM peneliti Indonesia, termasuk aplikasi nuklir dalam bidang pangan,” imbuh Djumala.

Catatannya adalah, penghargaan tertinggi FAO dan IAEA ini membuktikan bahwa Indonesia diakui dalam penguasaan teknologi nuklir untuk tujuan damai, serta menerapkannya untuk mendukung program pembangunan nasional.

Kerja sama internasional dalam kerangka IAEA dan hasil yang telah dicapai saat ini cerminkan diplomasi membumi Pemerintah Indonesia dalam bidang teknologi nuklir telah berikan manfaat sosial ekonomi langsung kepada masyarakat melalui aplikasi teknologi nuklir dalam bidang pangan.

Selama ini Kelompok Peneliti Pemuliaan Tanaman – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN, sebelumnya BATAN) sudah mampu menghasilkan beragam varietas tanaman pangan seperti padi, kedelai, sorghum, pisang dan kacang-kacangan.

Yang apa?

Tentu saja yang mampu menjawab tantangan perubahan iklim seperti ketahanan terhadap kekeringan, produktivitas tinggi, ketahanan hama hingga usia panen yang pendek. Indonesia juga pernah menerima penghargaan serupa tahun 2014.

Penghargaan Outstanding Achievement Award juga diberikan FAO dan IAEA kepada 10 negara lain yaitu Cina, Kuba, India, Bangladesh, Iran, Malaysia, Mali, Pakistan dan Afrika Selatan.

BACA JUGA: Majalah MATRA edisi terbaru

 



Source link

!-- Composite Start -->
  • Bagikan