Potret Dunia Kampus AS di Tahun 2020


Banyak terjadi insiden dalam dunia pendidikan Amerika Serikat yang terjadi pada tahun 2020. Pertama, skandal penerimaan mahasiswa. Lebih dari 30 orang tua, termasuk aktris “Full House” Lori Loughlin dan suaminya, perancang fesyen Mossimo Gianulli, dikenakan hukuman akibat skandal penerimaan mahasiswa yang membeberkan bagaimana orang tua melakukan penyuapan agar anak-anak mereka diterima di universitas elit.

Staf dari beberapa universitas terlibat dalam berbagai kasus ini, seperti Yale, Stanford, Georgetown, University of California, Los Angeles (UCLA), dan University of Southern California (USC). Namun, Kejaksaan Federal Amerika menganggap sekolah-sekolah ini tidak tahu kegiatan staf mereka dan tidak terlibat dalam kasus-kasus penyuapan ini.

Kemudian ada skandal yang melibatkan seorang profesor, yang punya koneksi dengan China. Pada Januari 2020, seorang profesor Harvard ditangkap. Dia seorang perintis dalam bidang nanoscience dan punya hubungan dengan China serta terjadi transaksi di antara keduanya yang melibatkan pencurian hak properti intelektual.

Dalam foto 5 Desember 2019 ini, orang-orang berjalan di dekat pintu masuk gedung di Harvard Law School, di Cambridge, Mass. (Foto: AP)

Dalam foto 5 Desember 2019 ini, orang-orang berjalan di dekat pintu masuk gedung di Harvard Law School, di Cambridge, Mass. (Foto: AP)

Charles Lieber adalah kepala departemen ilmu kimia di Harvard (University), dan ilmuwan terkemuka dalam bidang nanoscience. Dia dikenakan tuduhan berbohong tentang dana yang diterimanya dari badan penelitian China.

Pemerintah Amerika menuduhnya menyembunyikan pembayaran sampai $50 ribu per bulan dari pemerintah China. Dia juga menerima lebih dari $1,5 juta untuk mengembangkan sebuah laboratorium penelitian di Wuhan University of Technology di China.

Lieber menolak tuduhan itu dan menyatakan dirinya tidak bersalah atas dakwaan itu pada Juli.

Pada 2020 Amerika meluncurkan beberapa kasus terhadap peneliti dan pengajar seperti Lieber, yang punya koneksi dengan pemerintah dan bisnis China.

Isu ketiga adalah tantangan visa bagi para mahasiswa internasional. Pemerintahan Trump menerbitkan beberapa perubahan terkait imigrasi dan modifikasi yang berdampak pada stabilitas visa mahasiswa.

Pada Juli, Badan Imigrasi Amerika atau ICE mengumumkan peraturan yang mensyaratkan mahasiswa internasional di AS untuk mengikuti kelas secara fisik dan tidak sekedar online. Kalau tidak memenuhi syarat itu, mereka akan berisiko dideportasi selama masa pandemi.

ICE membatalkan peraturan itu setelah Harvard dan Massachusetts Information Technology (MIT) mengajukan tuntutan hukum terhadap pemerintah Amerika. Tuntutan itu didukung oleh lebih dari 200 universitas Amerika lainnya.

Ada pula berita menarik tentang suara generasi muda dan pemilihan presiden pada 2020 lalu.

Suara dari generasi muda, khususnya para pemilih kulit berwarna, mencapai angka yang memecahkan rekor untuk memilih Joe Biden dan Kamala Harris dalam pemilihan November lalu.

Di antara ke 24 juta pemilih Amerika, sekitar 20 persen berusia antara 18 dan 29 tahun. Mereka cenderung memilih Biden ketimbang Trump dengan selisih 61 dan 36 persen, demikian menurut data The Center for Information dari Tufts University.

Isu yang ngetop di kalangan pemilih muda termasuk Covid-19, layanan kesehatan, hubungan ras, dan perubahan iklim. Kekerasan dengan senjata api serta utang mahasiswa merupakan isu utama yang menentukan pilihan mereka.

Akhirnya, berita tentang pendaftaran mahasiswa internasional. Pendaftar dari kelompok ini turun 43persen pada awal tahun akademis 2020–2021 akibat Covid-19, demikian dilaporkan the Institute for International Education. [jm/ka]



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Masih Ada Masyarakat yang Ditawari Uang di Pilkada 2020

Ming Jan 10 , 2021
VOA —  Menurut Direktur Eksekutif LSI, Djayadi Hanan, politik uang masih ditemukan di Pilkada 2020 yang berlangsung pada 9 Desember. Berdasarkan survei yang dilakukan LSI terhadap 2.000 responden, masyarakat masih ditawari politik uang guna memengaruhi pilihannya agar memilih pasangan calon tertentu. “Ada 17 persen masyarakat yang mengaku ditawari uang atau barang-barang lainnya untuk memengaruhi pilihan mereka agar memilih calon tertentu. Itu cenderung lebih besar di kalangan laki-laki. Kemudian cenderung lebih […]