Pola Asuh Orangtua di Era Digital dengan Budaya yang Positif

  • Bagikan
banner 468x60


EKSEKUTIF.COM, JAKARTA,- Pandemi membuat kehidupan sosial semakin terikat dengan dunia digital. Masa yang membuat transformasi digital makin terasa ini juga menyebabkan sosial interaksi anak-anak hari ini berpindah ke digital atau sosial media platform. Oleh karena itu kita pun harus paham bahwa hari ini sudah terjadi perubahan kultur dalam peran orangtua berkomunikasi, bertindak, bersosialisasi, serta memberikan edukasi terhadap anak.

banner 336x280

“Komunikasi kunci investasi orangtua terhadap anak, di mana orangtua membangun culture yang positif untuk anak. Jadikan anak sebagai teman, sahabat bahkan partner dalam segala hal sehingga terjadi komunikasi dua arah untuk menciptakan budaya nyaman dan percaya terhadap anak,” ujar Dino Hamid, Founder Famgofest & Latomochi saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Sukabumi, Jawa Barat I, ada Senin (13/9/2021).

Akan tetapi tentu saja dengan perbedaan generasi pola asuh dan budayanya akan berbeda sehingga orangtua pun harus menyesuaikan cara berkomunikasi dengan anak. Orangtua pun harus menjadi role model bagi anak-anaknya, seperti budaya dalam menggunakan gawai ke anak adalah meminjamkan bukan memberikan.

Seperti dengan menciptakan budaya screen time, yakni membatasi penggunaan gawai pada anak sehingga anak hanya boleh mengakses perangkat digital sesuai usianya saja. Usia 0 hingga 2 tahun sama sekali tidak boleh mengakses gawai, usia 2 hingga 3 tahun hanya 30 menis dalam sehari. Sementara usia 3 hingga 5 tahun hanya 1 jam saja per hari dan di atas usia 5 tahun maksimal 2 jam penggunaan per hari, itu pun harus dijeda tidak sekaligus dalam satu waktu.

“Aktivitas anak di internet pun harus diawasi orangtua dengan berbagai aplikasi parent lock dan pengaturan tertentu Anda bisa menjaga anak-anak dari pengaruh buruk internet. Orangtua juga perlu menciptakan quality time dengan anak yaitu waktu tanpa gawai di dalam keluarga,” kata Dino.

Webinar Literasi Digital wilayah Kota Sukabumi, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Pada webinar hadir pula nara sumber lainnya seperti Indra Brasco, seorang Dadpreneur, Momon Sudarma, Praktisi Komunikasi Pendidikan dan Taufik Hidayat, Kepala UPT IT dan Dosen Fakultas Teknik Universitas Syekh Yusuf.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 12 kali dilihat,  12 kali dilihat hari ini



Source link

!-- Composite Start -->
  • Bagikan