Penggunaan Bahasa yang Baik dan Benar di Dunia Digital Telah Mengalami Pergeseran

  • Bagikan
banner 468x60


EKSEKUTIF.COM – Bahasa menjadi satu hal yang penting dalam berkomunikasi. Dalam artian, bahasa ini sebagai simbol agar orang yang berkomunikasi saling memahami satu sama lain terkait maksud dan pesan yang ingin disampaikan. Dengan adanya bahasa, kita bisa menghindari miskomunikasi.

banner 336x280

Di samping sebagai alat komunikasi, bahasa juga berfungsi sebagai alat pemersatu. Dalam hal ini, Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah dan bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatunya. Fungsi bahasa yang lainnya yakni sebagai pengetahuan untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan sejarah, serta identitas suatu suku/bangsa karena unik.

“Bahasa yang baik belum tentu sesuai PUEBI karena lebih mengutamakan fungsi komunikatif. Bahasa yang baik juga belum tentu benar. Penggunaannya disesuaikan dengan situasi dan keadaan. Tergantung kepada siapa kita berbicara,” jelas Irma Nawangwulan, Dosen International University Liasson Indonesia, saat menjadi pembicara dalam Webinar di wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (30/7/2021).

Bahasa yang benar itu menggunakan kaidah bahasa normatif, pelafalan bahasa yang benar itu baku, baik lisan maupun tulisan. Dalam penggunaan bahasa yang benar juga menggunakan EBI. Selain itu, bahasa yang benar menggunakan kalimat secara efektif. Misalnya, penggunaan bahasa yang benar dilakukan saat ada acara rapat atau pertemuan penting.

Penggunaan bahasa yang baik dan benar di dunia digital, terutama media sosial telah mengalami fenomena pergeseran. Contohnya, penggunaan campuran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris atau dikenal dengan Indoglish. Irma mengatakan, penggunaan bahasa Indoglish ini tidak bisa dinormalisasi, karena ini merupakan salah satu efek di media sosial dan tidak cocok dalam penggunaan sehari-hari, terlebih pada situasi formal.

Perubahan lainnya yang terjadi, seperti penggunaan kata singkatan atau pemendekan kata yang tidak sesuai, penggunaan emoticon, adanya sisipan bahasa inggris, dan muncul istilah baru dalam media sosial.

Irma berpendapat bahwa media sosial memiliki peran besar dalam mengubah budaya berbahasa seseorang, termasuk bahasa alay. Hadirnya bahasa alay bisa dikatakan sebagai salah satu dampak negatif di media sosial. Bahasa semacam itu boleh digunakan ketika berbicara dengan teman dan tidak digunakan ketika berkomunikasi di media sosial. Karena kata-kata kita menunjukan jati diri bagaimana kita ingin diperlakukan orang lain.

“Di era digital, media sosial banyak digunakan untuk mempromosikan barang atau jasa, pembentukan opini, pencitraan terhadap figur atau kandidat. Oleh sebab itu, menggunakan bahasa di media sosial harus ada etika dan tata kramanya.” paparnya.

Irma menyampaikan, untuk menggunakan tata bahasa yang sopan di media sosial, sebaiknya kita menghindari memposting sesuatu saat emosi. Kemudian, memperhatikan penggunaan huruf kapital. Dalam bahasa tulisan, huruf kapital di seluruh kalimat dapat memberi arti bahwa kita sedang marah. Penting juga untuk kita mencari kebenaran berita yang beredar di media sosial. Jangan membaca berita hanya dari judul, tetapi keseluruhan informasi, serta memeriksa sumber berita.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (30/7/2021) juga menghadirkan pembicara, Dino Hamid (Ketua Asosiasi Promotor Musik Indonesia), Chika Amalia (Public Figur Branding & Partnership), Benny Daniawan (Dosen Sistem Informasi Universitas Buddhi Dharma), dan Fanny FabrianaI.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 5 kali dilihat,  5 kali dilihat hari ini



Source link

!-- Composite Start -->
  • Bagikan