Pelaku Kekerasan Seksual Biasanya dari Orang Terdekat, Ketahui Cara Pencegahannya

  • Bagikan
banner 468x60


EKSEKUTIF.COM, JAKARTA – Berdasarkan laporan Organisasi Keadilan Gender di Amerika Serikat, sebanyak 77% perempuan mengalami pelecehan verbal dan sekitar 41% di antaranya terjadi di dunia maya. Adapun di Indonesia, kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di dunia maya meningkat 300% di akhir tahun 2019. Bisa dibayangkan berapa angkanya sejak pandemi di mana pengguna internet kini sudah mencapai 202,6 juta?

banner 336x280

Komnas Perempuan mencatat kenaikan yang cukup signifikan dari 97 kasus pada tahun 2018 menjadi 281 kasus pada tahun 2019. Kasus yang banyak terjadi yaitu penyebaran foto atau video porno. “Banyak dari pelaku yang merupakan orang terdekat korban, seperti pasangan, ataupun orang-orang terdekat yang berada di lingkungan korban,” Kata Ninik Rahayu Tenaga Profesional Lemhamnas saat webinar Literasi Digital Kota Tasikmalaya, Jawa Barat I, pada Jum’at (24/9/2021).

Ninik mengungkapkan, sebelum memahami pengertian Kekerasan Gender Berbasis Online (KBGO), seseorang harus memahami dulu kekerasan berbasis gender. Yaitu kekerasan yang secara spesifik dialami oleh perempuan karena adanya relasi gender yang tidak setara. Sehingga KBGO merupakan kejahatan siber dengan korban perempuan yang seringkali berhubungan dengan tubuh perempuan yang dijadikan objek pornografi.

“KBGO ini dapat masuk ke dunia offline di mana korban mengalami kombinasi kekerasan secara online kemudian berlanjut secara langsung saat offline,” ujar Ninik.

Bentuk KBGO di antaranya cyber hacking, impersonation di mana penggunaan teknologi digunakan untuk mengambil identitas orang dengan tujuan mengakses suatu informasi yang pribadi, mempermalukan, dan menghina korban, menghubungi atau membuat dokumen-dokumen palsu.

Ada juga jenis cyber surveillance, stalking atau tracking seperti halnya menguntit dan mengawasi tindakan atau perilaku korban dengan pengamatan langsung atau pengusutan jejak korban. Kemudian cyber harassement dengan menakut-nakuti, merayu  atau memanipulasi korban untuk mendapat keuntungan. Serta cyber recruitment penggunaan teknologi untuk memanipulasi korban, sampai malicious distribution yang meliputi penyebaran konten-konten yang merusak reputasi korban atau organisasi pembela hak-hak perempuan terlepas dari kebenarannya.

Di era serba digital, apa yang bisa dilakukan agar terhindar dari kekerasan gender berbasis online? Dia menyebutkan semuanya bisa dicegah dengan bijak saat menggunakan sosial media, tidak mengunggah sesuatu yang pribadi di sosial media, tidak menyimpan video atau foto pribadi di gadget, tidak terbujuk oleh pasangan untuk melakukan konten pornografi. Di sinilah pentingnya pendidikan literasi digital dan kurikulum literasi digital.

Bagaimana bila sudah terjadi? Dia mengajak untuk jangan ragu melapor. Minimal mengontak lembaga-lembaga terkait seperti Komnas Perempuan. Berikut juga lembaga pengaduan online seperti JalaStoria.id dan Kantor Polisi. Keberanian korban melapor merupakan bentuk memutus rantai KBGO dan agar pelaku jera.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kota Tasikmalaya, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Aditya Nova, Ketua Jurusan Hotel & Pariwisata IULI, Asep Maman, Kadis Kominfo Kota Tasikmalaya, dan Dee Rahma, seorang Digital Marketing Strategist.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 

 6 kali dilihat,  6 kali dilihat hari ini



Source link

!-- Composite Start -->
  • Bagikan