Orangtua Perlu Edukasi Anak Bahaya Pornografi Sejak Dini

  • Bagikan
banner 468x60


JAKARTA,Internet telah menjadi alat komunikasi, sosialisasi untuk menambah teman, bekerja, memasarkan bisnis, mendukung fasilitas perbankan, hingga digunakan sebagai hiburan.

Sebagai sumber informasi tak terbatas, bahkan sekarang internet juga digunakan untuk Pengajaran Jarak Jauh (PJJ) atau sekolah daring yang sudah dilakukan sejak pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia.

banner 336x280

Di balik keberadaan internet yang memudahkan segala aspek hidu terdapat dampak negatif seperti masalah kesehatan pada anak bila sudah kecanduan.

Merusak penglihatan, mengganggu pola tidur, membuat kurangnya bersosialisasi, gangguan emosi, stres, obesitas, hingga gangguan pertumbuhan dan kecanduan gadget yang sudah masuk dalam gangguan kejiwaan.

Nandya Satyaguna seorang medical doctor mengungkapkan, salah satu bahaya internet yang dikhawatirkan para orang tua paparan pornografi terhadap anak.

Data paparan pornografi anak Indonesia pada Juni 2018 lewat skrining Kementerian Kesehatan mengenai adikasi pornografi pada siswa SMP dan SMA mengungkapkan sebanyak 1314 responden di kota besar yakni 98,3% telah terpapar pornografi.

Tingkat kecanduan pornografi dimulai dari durasi 1-2 kali setahun, lebih dari 6 kali, sebulan sekali, setiap minggu, setiap hari hingga menggangu keseharian, dan yang paling teratas sudah tidak berdaya dan putus asa jika tidak melihat pornografi.

“Pornografi bagi anak ini memengaruhi otak yaitu fungsi Pre Frontal Cortex yang membedakan antara otak manusia dengan otak hewan dalam menata emosi, konsentrasi, pemahaman, empati, berpikir kritis, membuat rencana masa depan, membentuk kepribadian dan berperilaku sosial,” kata Nandya saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (2/8/2021).

Pornografi akan memengaruhi perkembangan mental dan tubuh anak, biasanya berpengaruh pada konsentrasinya, dan menurunkan kemampuannya di sekolah.

Meski begitu, Nandya mengatakan anak yang sudah terpapar pornografi masih bisa ditangani. Namun orangtua sebaiknya tidak panik atau menghakimi anak, tapi lakukan pendekatan dari hati ke hati dan pahami anak.

Konsep penggunaan internet sehat harus menjadi panduan orang tua untuk melindungi diri sendiri serta orang lain dari risiko di dunia online.

Penggunaan internet sehat pada anak akan mengeleminasi bahaya internet. Sekarang ini internet sudah merupakan kebutuhan sehingga tidak mungkin melarang anak untuk tidak menggunakannya. Orang tua harus bisa mengarahkan anak-anak untuk memakai internet sehat.

“Orang tua juga perlu mengajarkan kewaspadaan pada anak-anak, keterbukaan dalam berkomunikasi dan mau mendengarkan anak serta tidak menghakimi anak,” kata Nandya lagi.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.

Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Dino Hamid, Ketua Asosiasi Promotor Musik Indonesia, Vivi Andriyani, Marcomm & Promotion Specialist, dan Reza Hidayat, CEO Oreima Films.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 

 59 kali dilihat,  59 kali dilihat hari ini



Source link

!-- Composite Start -->
  • Bagikan