New York Berhasil Capai Target PBB Hapus Pandemi AIDS, Kota Lain Masih Tertinggal 


Dunia telah memiliki peralatan untuk mengakhiri AIDS selama satu dekade terakhir. Obat anti-AIDS hampir pasti membuat mereka yang terjangkit tidak menularkan virus itu kepada orang lain. Ada pula obat untuk mencegah infeksi bagi mereka yang berisiko tinggi tertular HIV.

Empat tahun lalu, pemerintah di seluruh dunia berkomitmen untuk mencapai tiga target, yaitu mendiagnosis 90 persen orang yang mengidap HIV, mengobati 90 persen orang yang didiagnosis, dan menekan virus itu ke level yang tidak lagi terdeteksi pada 90 persen orang yang diobati.

Namun demikian, para pakar mengatakan akhir pandemi AIDS ini masih jauh.

Dr. Chris Beyrer (Photo: Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health)

Dr. Chris Beyrer (Photo: Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health)

“2020 seharusnya menjadi tahun di mana kita melihat penurunan signifikan kasus baru infeksi HIV, hingga di bawah 500 ribu secara global. Tetapi kita justru melihat lebih dari 1,7 juta kasus baru tahun 2019. Jadi kita melenceng jauh dari target untuk mengendalikan penularan HIV,” kata Dr. Chris Beyrer, profesor di Johns Hopkins, yang telah meneliti HIV/AIDS selama 30 tahun terakhir.

Beyrer mengatakan kelompok remaja dan dewasa muda sebagai kelompok yang paling rentan.

“Kita masih melihat orang tertular HIV ketika mereka relatif muda, terutama di kawasan sub-Sahara Afrika. Tapi hal yang sama juga terjadi di Amerika Serikat, Amerika Latin, Karibia, Asia Timur, Asia Tenggara, dan mereka tidak langsung memulai pengobatan, jadi agak terlambat,” imbuhnya.

Ini adalah masalah besar bagi laki-laki muda, kata Beyrer. Mereka biasanya tidak memeriksakan diri ke dokter dan dites hingga mereka mengalami gejala. Akibatnya, mereka meninggal lebih cepat dibandingkan perempuan dengan HIV, dan mereka memiliki waktu bertahun-tahun untuk menularkan virus itu ke pasangan mereka, tambah Beyrer.

HIV merajalela di negara-negara yang memidanakan pekerja seks komersial, homoseksual atau transgender; menghukum pengguna narkoba suntik; atau di mana kelompok orang-orang itu distigmatisasi. Lebih dari 60 persen kasus baru infeksi HIV berasal dari kelompok-kelompok tersebut.

Di sisi lain, Kota New York justru berhasil mencapai target PBB melalui program yang memperluas layanan kesehatan dengan mencakup mereka yang berisiko tertular HIV.

Dr. Demetre Daskalakis.

Dr. Demetre Daskalakis.

“Sebagian besar yang kami lakukan di kota New York untuk mengakhiri epidemi ini berasal langsung dari komunitas-komunitas, misalnya kegiatan yang kami lakukan bersama organisasi-organisasi yang dipimpin transgender. Kami benar-benar menyimak apa yang mereka butuhkan dan merancang sesuatu yang sesuai kebutuhan itu,” jelas Dr. Demetre Daskalakis, kepala program AIDS Dinas Kesehatan kota New York.

Daskalakis mengatakan, keberhasilan pencegahan AIDS di New York adalah berkat layanan kesehatan yang fokus menyediakan perawatan, alih-alih pada identitas orang yang menerima perawatan tersebut.

Daskalakis dalam waktu dekat akan mengawasi program HIV/AIDS di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS. Ia yakin Amerika Serikat juga bisa berhasil dengan mendengar apa saja yang dibutuhkan oleh kelompok-kelompok tersebut. [rd/ka]



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Anggota Parlemen Eropa Mundur Setelah 'Pesta Seks' Saat Lockdown 

Rab Des 2 , 2020
Seorang anggota parlemen Eropa dari Hongaria yang konservatif dan sekutu dekat Perdana Menteri Viktor Orban, Selasa (1/12), meminta maaf setelah polisi Belgia menangkapnya di sebuah pesta sementara negara itu menerapkan lockdown. Pesta itu digambarkan pers lokal sebagai pesta seks. Jozsef Szajer, yang ikut merancang konstitusi Hongaria, mengundurkan diri pada akhir pekan karena apa yang kemudian dikatakannya sebagai “alasan pribadi.” Tetapi ia kemudian mengakui mendapat peringatan dari polisi. Jaksa Brussel kepada […]