Netiket, Pentingnya Etika di Dunia Maya

  • Bagikan
banner 468x60


EKSEKUTIF.COM – Majunya teknologi juga diiringi dengan bertambahnya pengguna internet di Indonesia. Pada Januari 2021, data mencatatkan pengguna internet di Indonesia meningkat sebanyak 27 juta dibandingkan tahun sebelumnya dan total pengguna saat ini ada 202,6 juta jiwa.

banner 336x280

Banyaknya jumlah pengguna tidak diimbangi dengan kemampuan dalam menerapkan etika digital yang baik. Tidak jarang kita melihat media sosial itu kacau, karena minimnya penerapan etika tersebut.

“Oleh karena itu, dibutuhkan netiket yang merupakan kumpulan perilaku yang baik dan dianjurkan di internet. Menerapkan netiket yang baik bukan hanya wajib, tetapi sudah menjadi tanggung jawab pengguna,” jelas Intan Maharani, dalam Webinar Literasi Digital di Wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (30/7/2021).

Intan menjelaskan, dalam keseharian kita di masa pandemi, interaksi sering dilakukan melalu platform teleconference dan media sosial. Menggunakan kedua platform ini tentu juga harus menerapkan etika digital.

Di platform teleconference, seperti Zoom dan Google Meet, etika digital yang harus diterapkan yakni, mempersiapkan diri sebelum mulai. Apapun yang dibutuhkan dalam pertemuan tersebut. Hadir tepat waktu agar acara tidak diundur. Kemudian, menyalakan kamera video dan berbusana sebagai bentuk menghargai orang lain dalam pertemuan digital. Pada dasarnya, etika pertemuan maya tidak jauh berbeda dengan etika pertemuan nyata. Pembedanya hanya ada pada penggunaan teknologi yang dimanfaatkan.

Sebagai pengguna yang melakukan interaksi di dunia digital, sepatutnya kita bersikap hormat dan menggunakan kata yang santun. Kemudian, pada saat adanya pertemuan virtual, diri kita wajib hadir sepenuhnya dalam acara tersebut.

Sementara itu, dalam berinteraksi di sosial media etika yang harus dilakukan dengan bersikap positif. Sikap positif ini meliputi akun yang diikuti serta informasi yang didapat dan diberikan. Penggunaan tutur kata di media sosial harus menggunakan kalimat yang sopan. Menghindari mengunggah informasi dan data pribadi hingga memastikan informasi yang dibagikan valid.

“Sopan santun merupakan landasan utama masyarakat yang beradab. Jadi jika kita ingin menjadi bagian dari masyarakat beradab, kita harus mulai dari diri sendiri memperlakukan orang lain dengan baik dan ormat. Hal ini juga berlaku pada interaksi di dunia offline dan online,” tambahnya.

Intan mengatakan, media digital juga dapat difungsikan sebagai media kolaborasi antarpengguna. Dalam memilih teman kolaborasi agar tidak termakan hoaks, terdapat hal-hal yang dipertimbangkan. Jika mewakili individu, kita harus memilih akun asli, bukan akun palso atau akun kedua. Kemudian, jika mewakili institusi, kita dapat memilih akun bertanda centang biru atau akun yang representatif. Selain itu, pastikan informasi yang dibagikan dan dikolaborasikan merupakan informasi valid.

Semuanya dimulai dari diri sendiri, apapun yang diunggah di media digital menjadi rekam digital kita dan dapat diakses siapapun, termasuk oleh generasi kita di kemudian hari. Oleh karena itu, kita harus bijak berinteraksi sebagai individu dan warga negara yang baik.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (30/7/2021) juga menghadirkan pembicara, Dino Hamid (Ketua Asosiasi Promotor Musik Indonesia), Irma Nawangwulan (Dosen International University Liasson Indonesia), Benny Daniawan (Dosen Sistem Informasi Universitas Buddhi Dharma), dan Nyimas Indriana.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 4 kali dilihat,  4 kali dilihat hari ini



Source link

!-- Composite Start -->
  • Bagikan