Mobil Tabrak Pejalan Kaki di Trier, Jerman, Sedikitnya 5 Tewas



Polisi di kota Trier, Jerman barat, mengatakan sedikitnya lima orang, termasuk seorang bayi, tewas dan 15 lainnya cedera ketika sebuah mobil melaju di areal pejalan kaki di pusat kota itu.

Pada konferensi pers di lokasi kejadian, juru bicara polisi Trier, Karl-Peter Jochem kepada wartawan mengatakan, pihak berwenang pada siang hari menerima telepon tentang mobil itu dan pengendaranya menabrak orang secara acak.

Saksi mata mengatakan kepada media lokal bahwa mobil Range Rover berwarna abu-abu tua itu menabrak orang sampai mental ke udara. Jochem mengatakan polisi berhasil menghentikan mobil tersebut, dan mereka menangkap seorang laki-laki berusia 51 tahun, warga negara Jerman, di tempat kejadian.

Juru bicara polisi itu mengatakan polisi yakin ia bertindak sendiri dan sedang diselidiki motifnya. Polisi mengatakan pusat kota itu telah ditutup dan helikopter terus memantau dari udara.

Surat kabar lokal melaporkan para orang tua diminta untuk menjemput anak-anak mereka lebih awal dari sekolah. Otoritas kota memperingatkan warga untuk menjauh dari pusat kota.

Petugas tanggap darurat setempat dan polisi masih berada di tempat kejadian.

Jerman telah memperketat keamanan di zona pejalan kaki di seluruh negeri sejak serangan truk yang mematikan di pasar Natal Berlin pada 2016. Serangan itu menewaskan 12 orang dan melukai puluhan lainnya.

Trier terletak 200 kilometer di sebelah barat Frankfurt, di sebelah barat tengah perbatasan dengan Luksemburg. [my/ka]



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Soal LGBT, Komisioner Komnas HAM Serukan TNI-Polri Buat Aturan Lebih Jelas

Rab Des 2 , 2020
JAKARTA —  Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara mengatakan tidak ada undang-undang yang membenarkan seseorang dapat dihukum atau didiskriminasi karena orientasi seksualnya. Hal ini disampaikan Beka menyusul pemecatan belasan anggota TNI-Polri karena disangka berperilaku homoseksual. Karena itu, Beka mengusulkan TNI-Polri membuat aturan yang lebih jelas sehingga tidak terjadi multitafsir aturan yang digunakan untuk pemecatan personel TNI-Polri berdasarkan orientasi seksualnya. Namun, ia mengingatkan aturan tersebut tidak boleh melanggar hak asasi manusia […]