Memaknai Nilai Hidup yang Sesuai Budaya Indonesia

  • Bagikan
banner 468x60


EKSEKUTIF.COM – Nilai hidup yang harus dimiliki oleh masyarakat Indonesia, ada yang harus dilestarikan dan ada yang harus ada yang harus kita tinggalkan terlupakan. Berbicara mengenai nilai.

banner 336x280

Psikolog Oryza Sativa menjelaskan nilai dalam kehidupan itu sederhananya adalah seperti kalau warga negara Indonesia memiliki Pancasila sebagai pedoman hidup dalam bernegara. Jadi terhadap hidup kita sendiri juga harus punya pedoman kalau kita ingin anak kita tertata harus disiplin, patuh kepada orang tua, tidak berbohong dan lain-lain. Kita sendiri sebagai orang tua yang harus memberikan nilai hidup yang benar kalau kita mau menyehatkan mental anak, kita sendiri mentalnya harus sehat.

“Ketika kita tahu apa nilai, kita jadi memiliki seperti ruh untuk bertindak dan merasakan apapun. Jiwa kita itu ada tiga elemen pikiran, perasaan dan tindakan. Semua itu diawali dengan pikiran makanya pikiran kita itu harus memiliki nilai sehingga perasaan dan tindakan menjadi lebih tertata,” jelasnya saat menjadi pembicara webinar Gerakan Nasional Literasi Digital untuk Indonesia untuk wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Senin (9/8/2021) pagi.

Oryza menambahkan, apapun nilai yang dipilih jangan menjadi manusia seperti zombie tidak punya ruh. Kita tidak tahu akan ke mana atau apa yang kita tuju. Kita tidak tahu apa yang kita cari dalam hidup ini menjalani aktivitas sehari-hari rutinitas yang sama seperti robot tanpa memiliki nilai. Dia membagi nilai kehidupan bagi yang sesuai dengan budaya Indonesia dan sesungguhnya harus dimiliki masyarakat Indonesia.

Ada empat kelompok yang pertama adalah kelompok anak-anak 2-7 tahun, pubertas 7-12 tahun, remaja 12-18 tahun dan dewasa 18 tahun ke atas. Nilai hidup usia anak-anak itu menyayangi sesama, hormat kepada orang tua, kepatuhan, memaafkan, berbagi, kemandirian dan kedisiplinan Dari beberapa nilai ini, ada nilai-nilai yang sesuai dengan budaya Indonesia yaitu hormat kepada orang tua, kepatuhan dan berbagi

“Baru-baru ini Indonesia mendapatkan gelar negara yang paling dermawan. Masyarakat Indonesia sedari kecil sudah diajarkan berbagi berbagi kepada sesama. Itulah nilai yang akn dibawa sampai dewasa,” ujarnya.

Kemudian selanjutnya nilai hidup usia 7-12 tahun, tanggung jawab, konsistensi, kejujuran, kesetiakawanan, kreativitas, kerjasama dan toleransi. Nilai kehidupan seperti ini yang harus ditanamkan oleh orang tua.

Di usia-usia pubertas ini juga banyak anak yang kecanduan gadget. Oryza mengaku, banyak yang bertanya kepadanya, bagaimana cara untuk mengatasi kecanduan gadget.

“Saya hanya menjawab bukan saya membela anak-anak, sebenarnya anak-anak itu bisa kita tata dengan baik. Mereka punya nilai yang kuat yang ditanamkan oleh kita sebagai orang tua kadang misalkan kita menanamkan anak untuk konsisten tapi kita sendiri sebagai orang tua suka ingkar janji. Bagaimana anak bisa konsisten kalau kita sendiri tidak melakukan itu,” jawabnya.

Berikut ini adalah nilai hidup usia 12-17 tahun yaitu ketenangan, kesabaran, kesalahan kesederhanaan, rendah hati, cinta kasih, percaya diri dan optimisme. Cinta kasih kita sebagai orang tua harus mengajarkan mengajarkan sesuai dengan usia anak bukan tentang cinta kasih yang lebih ke lawan jenis. Tapi bagaimana laki-laki menghargai perempuan dan perempuan menjaga diri mereka.

Nilai hidup usia dewasa kesetiaan, integritas, ramah tamah, kerja keras, ketabahan, keberagaman dan harga diri. Nilai-nilai yang sesuai dengan budaya Indonesia yaitu integritas ramah tamah, ketabahan dan keberagaman. Ketabahan sangat diperlukankan pada saat ini ketika pandemi yang tidak tahu kapan berakhirnya. Kita harus tetap tabah, kalau kita tidak punya ketabahan kita tidak akan punya ketenangan, kalau kita tidak tenang tidak bisa menyelesaikan masalah masalah dengan baik.

Oryza menjelaskan, panduan nilai hidup bagi orang tua jadilah role model bagi anak-anak, memberikan nilai hidup. Pahami arti fungsi keluarga, arti teman dan pertemanan. Jangan pernah gaptek, lakukan literasi digital serta pantau aktivitas berinternet anak. Jaga hubungan baik dan dengan sahabat dan teman anak agar kita bisa tahu seperti apa teman-teman mereka tetap tumbuhan nilai-nilai kehidupan agar terciptanya literasi digital yang berkualitas.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Senin (9/8/2021) pagi juga menghadirkan pembicara Esa Firmansyah (Relawan TIK Sumedang), Fhassy Maulavi (Design Consultant Company), Aaron O’Brien (Kreator Konten), dan Ida Rhynjsburger sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 4 kali dilihat,  4 kali dilihat hari ini



Source link

!-- Composite Start -->
  • Bagikan