Kucing perlu dikebiri atau dimandulkan, enggak, sih?

Genre: Gaya Hidup
Dilihat: 0 views


KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bagi kucing, kawin adalah kebutuhan biologis sama seperti makhluk hidup lain. Masalahnya, kucing yang tinggal di dalam rumah memiliki akses kawin yang lebih terbatas.

Lantas apa solusinya?

Sebagai pecinta kucing atau cat lover, Anda tentu ingin memberikan fasilitas dan lingkungan terbaik bagi kucing yang dipelihara. Anda pasti ingin menjaga agar kucing tetap waras, terpenuhi kebutuhan lahir maupun batin.

Sama seperti kucing liar, kucing rumahan yang sehat juga mengalami siklus birahi. Pada saat itu terjadi, mereka harus kawin. Kalau sampai hasrat alami mereka tidak tersalurkan, risiko biologis dan mental mengintai mereka.

Nah, perkara mengawinkan kucing rumahan bisa tidak sederhana. Mengawinkan kucing harus dibarengi rasa tanggung jawab sang pemilik.

Sebagai pecinta kucing kita harus mencarikan pasangan yang memiliki bibit, bebet, dan bobot yang baik; minimal kucing yang sehat. Lalu, pemilik juga harus bertanggung jawab memelihara anak-anak kucing yang kelak dilahirkan.

Pertanyaannya sekarang: sanggupkah Anda memelihara lebih banyak kucing di rumah pasca mereka kawin?

Kalau tidak, sterilisasi atau kebiri, menjadi pilihan yang paling memungkinkan.

Kucing stelah sterilisasi

Baca Juga: 4 Cara merawat kelinci terbaik yang perlu Anda lakukan

Ada dua jenis sterilisasi yakni spaying  (memandulkan) dan neutering  (menetralkan). Spaying untuk kucing betina sedangkan neutering untuk kucing jantan.

Spaying bertujuan menghilangkan ovari kucing betina. Pembedahan terjadi di dalam sehingga proses penyembuhan lebih lama ketimbang neutering. Otomatis, biayanya pun lebih mahal.

Sementara neutering lebih sederhana karena pembedahan terjadi di luar. Tujuannya untuk menghilangkan testis kucing jantan agar tidak subur lagi.

Prosedur spaying maupun neutering harus dilakukan oleh dokter hewan, layaknya prosedur medis lain.

Sebelumnya, dokter akan mengecek kelayakan kondisi kucing. Kalau dinggap layak, kucing mesti puasa dulu minimal 6 jam sebelum hari H operasi.

Lalu, prosedur medis akan dimulai dari bius, pembedahan, hingga pemulihan.

Sejumlah dokter hewan menyarankan agar proses sterilisasi kucing dilakukan setelah vaksin tahap kedua diberikan. Alasannya, probabilitas daya tahan tubuh kucing sudah lebih baik. Serangan virus dan bakteri bisa lebih diminimalisasi ketika tindakan medis terjadi.

Sekadar catatan, ada tiga tahap pemberian vaksin pada kucing pada tahun pertama.

Manfaat steril

Namun dengan berbagai alasan, banyak orang enggan memandulkan kucing piaraan mereka. Padahal selain prosedurnya aman karena ditangani dokter hewan, sterilisasi kucing memiliki banyak sisi positif.

Baca Juga: Baru punya anak kucing? Ini cara merawat anak kucing agar tumbuh sehat dan bahagia

Mengutip penjelasan Amerika Serikat (AS) yakni The American Society for the Prevention of Cruelty to Animals (ASPCA), sebuah organisasi pecinta hewan yang berkantor pusat di New York, spaying akan menjadikan hewan peliharaan betina hidup lebih lama dan lebih sehat.

Pemandulan turut mencegah infeksi rahim, tumor payudara yang bersifat ganas, atau kanker pada sekitar 90% kucing.

Sementara sterilisasi hewan peliharaan jantan bisa mencegah kanker testis dan beberapa masalah prostat.

Ada pula manfaat dari sisi perilaku si kucing. Kucing betina tidak akan mengalami birahi. Itu berarti Anda tidak akan lagi berhubungan dengan perilaku mereka yang buang air kecil lebih sering dan terkadang di seluruh rumah sebagai naluri untuk menarik pasangan.

Begitu pula pada perilaku kucing jantan yang kabur dari rumah untuk “jajan” diluar rumah mencari hewan betina, juga bisa diminimalisir.

Tahu sendiri, kan, kalau mereka kabur bisa saja mengalami cidera, berkelahi dengan hewan lain, atau ketabrak kendaraan.

Kucing yang tidak disteril lebih cenderung menandai wilayah dengan menyemprotkan air seni berbau menyengat ke seluruh rumah. Jadi hewan jantan yang dikebiri bakal berperilaku lebih baik.

“Beberapa masalah agresi juga dapat dihindari dengan sterilisasi dini,” dikutip dari penjelasan di situs ASPCA, organisasi yang didirikan oleh Henry Bergh sejak tahun 1866 di New York.

Persepsi bahwa kucing akan menggemuk pasca steril tidaklah benar. Kegemukan pada kucing dipengaruhi oleh kurangnya aktivitas dan makanan.

Kegemukan bisa terjadi kalau kucing jarang bergerak atau pemilik memberikan makanan secara berlebihan. Jadi, kuncinya adalah pemilik harus sering menstimulus kucing untuk aktif bermain dan mengatur makanan agar tidak berlebihan.

 

Editor: Anastasia Lilin Yuliantina



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *