– Konvergensi Majalah MATRA

Genre: MatraNews
Dilihat: 0 views


MATRANEWS.id — Era ‘new normal’ sekarang, masker adalah satu barang penting yang tidak boleh lupa dibawa. Sebab, masker diyakini sebagai salah satu alat untuk mencegah terjadinya penularan virus Corona saat berada di luar rumah.

Meski demikian, seiring dengan membanjirnya ragam masker yang beredar di pasaran, mulai dari berbahan katun, spandex, hingga medis, tentu banyak pertanyaan di benak masyarakat, masker seperti apa dan bagaimana yang aman digunakan serta dapat melindungi.

Sebagaimana diketahui, penularan Covid-19 bisa melalui droplet dari batuk, bersin, dan kontak langsung maupun udara. Untuk  masker scuba dan buff dilarang dipakai dalam gerbong KRL sejak awal bulan Oktober 2020.  Larangan itu disampaikan PT KCI melalui akun instagram @commuterline, pada 12 September lalu.

Menurut panduan mengenai pemakaian masker kain dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), masker harus terdiri atas minimal tiga lapisan.

Tiga lapis terdiri lapisan bagian dalam berupa bahan yang menyerap air seperti katun, bagian tengah berupa bahan tanpa tenun seperti polipropilen, dan bagian luar berupa bahan yang tidak menyerap seperti poliester atau campurannya

Masker satu lapis atau seperti model scuba tidak direkomendasikan untuk digunakan masyarakat karena tidak efektif untuk mencegah penularan Covid-19.

Namun, hingga kini banyak yang belum mematuhi. Bukan karena bandel, tapi karena tidak mengerti.  Masker scuba, sejauh ini paling nyaman dipakai, tak pengap dibandingkan masker kain.

Jika di dalam, KRL yang berdempetan,  masker jenis scuba atau buff dinilai hanya memiliki efektivitas lima persen dalam mencegah pengguna terpapar dari debu, virus dan bakteri.

Namun demikian, belum ada sanksi baik teguran maupun denda bagi para pengguna KRL yang masih memilih menggunakan masker scuba maupun buff.

“Masyarakat tidak diharuskan menggunakan masker yang ber-SNI (Standar Nasional Indonesia),” kata Nasrudin Irawan (Deputi Bidang Pengembangan Standariasi BSN.

Namun, masker ber-SNI ini akan membantu atau mempermudah masyarakat mengenali masker yang berkualitas ketika akan membeli, cukup hanya dengan melihat tanda SNI saja.

“Saat ini masih sukarela, jadi ada pilihan mau sertifikasi atau tidak, misal di pasaran boleh menjual yang SNI atau tidak (itu tidak wajib),” ujar Nasrudin sambil mengingatkan menggunakan masker ber-SNI maka masyarakat akan lebih terlindungi dan dapat melindungi orang lain terhadap penularan virus Covid-19.

 

Deputi Pengembangan BSN, Nasrudin Irawan

BSN telah menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 8914:2020 Tekstil – Masker yang mengatur persyaratan mutu masker yang terbuat dari kain tenun dan/atau kain rajut dari berbagai jenis serat, minimal terdiri dari dua lapis kain dan dapat dicuci beberapa kali.

Dalam SNI 8914:2020, masker kain di bagi ke dalam tiga tipe, yaitu tipe A masker kain untuk penggunaan umum, tipe B untuk penggunaan filtrasi bakteri, dan tipe C untuk filtrasi partikel.

Pengujian yang dilakukan, di antaranya uji daya tembus udara dilakukan sesuai SNI 7648; uji daya serap dilakukan sesuai SNI 0279; uji tahan luntur warna terhadap pencucian, keringat, dan ludah; pengujian Zat warna azo karsinogen; serta aktivitas antibakteri.

Penerapan masker ber-SNI untuk saat ini tidak diwajibkan terlebih dahulu. Jika tidak, hal itu akan mematikan home industry terkait APD yang mulai banyak berkembang di masa pandemi virus corona.

Pasalnya, penerapan masker ber-SNI tentu akan membuat ongkos produksi lebih mahal, sehingga berdampak pada harga masker.

Deputi Bidang Pengembangan Standariasi BSN, Nasrudin Irawan menjelaskan BSN tidak mempunyai kewenangan mewajibkan SNI, tetapi hanya menetapkan saja.

Sementara itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan penerapan sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi masker dari kain masih bersifat sukarela bagi produsen di dalam negeri yang ingin mendapatkan Sertifikasi Produk Penggunaan Tanda Standar Nasional Indonesia (SPPT SNI).

“Kami sampaikan tujuan penetapan SNI ini adalah sebagai pedoman bagi industri dalam negeri untuk memproduksi masker kain dengan spesifikasi atau parameter yang ada di dalam SNI 8914:2020 tersebut untuk mencegah penyebaran covid-19,” ungkap Elis Masitoh (Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin.

Elis mengatakan industri dalam negeri baik skala mikro, kecil, menengah, maupun besar tetap diperbolehkan membuat masker dari kain. Namun, dianjurkan untuk berpedoman pada parameter SNI 8914:2020.

Produsen dalam negeri, lanjutnya, yang sudah memproduksi maupun yang akan membuat masker kain tidak diwajibkan untuk mengurus sertifikat SPPT SNI bagi produknya.

Elis juga menerangkan sertifikasi bukan merupakan dasar adanya kewajiban pencantuman label SNI pada masker kain yang beredar di pasar, maupun untuk melarang peredaran masker dari kain yang tidak berlabel SNI.

“Masker yang sudah ada tetap dapat beredar, namun tentu saja tidak diperkenankan mencantumkan tanda SNI sebelum mendapatkan sertifikat SPPT SNI dari Lembaga sertifikasi Produk (LSPro),” papar Elis.

Elis Masitoh (Direktur Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki Kemenperin)

Diinformasikan sebelumnya, SNI 8914:2020 Tekstil – Masker dari Kain telah ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) pada 16 September 2020.

Dalam SNI 8914:2020, masker dari kain diklasifikasikan menjadi tiga tipe, yaitu tipe A untuk penggunaan umum. Lalu, tipe B untuk penggunaan filtrasi bakteri, dan tipe C untuk penggunaan filtrasi partikel.

Selain itu, masker tersebut juga setidaknya harus memiliki minimal dua lapis kain yang terbuat dari kain tenun dan kain rajut dari berbagai jenis serat tekstil.

SNI 8914:2020 tidak berlaku untuk masker yang dipergunakan untuk bayi maupun masker yang terbuat dari kain nir tenun (nonwoven).

SNI 8914:2020 menyebutkan bahwa masker dari kain dapat digunakan dalam aktivitas di luar rumah, atau saat berada di ruangan tertutup seperti kantor, pabrik, tempat perbelanjaan, maupun transportasi umum.

Dijelaskan, SNI masker dari kain juga disusun sebagai acuan syarat dan mutu bagi pengujian produk tersebut. Parameter dalam SNI ini merupakan capaian minimum kualitas masker dari kain. Dengan melakukan pengujian SNI, produsen dapat memberikan informasi kepada konsumen mengenai kualitas bahan yang digunakan.

Sebelum SNI 8914:2020 ditetapkan, tidak ada pedoman atau parameter untuk pengujian SNI masker dari kain, sehingga industri yang ingin mengetahui kualitas produknya belum bisa mengujikan masker yang dihasilkan.

baca juga: majalah MATRA edisi cetak — klik ini

Konvergensi Majalah MATRA



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *