Komposisi Juri yang Menentukan dalam Persidangan di AS 


Juri, yang memvonis bersalah mantan polisi kulit putih Minneapolis, Derek Chauvin, dalam kematian orang kulit hitam George Floyd, menurut informasi pengadilan terdiri dari lima laki-laki dan tujuh perempuan. Enam di antaranya kulit putih, empat kulit hitam, dan dua ras campuran.

Keragaman juri mungkin turut menentukan hasil persidangan yang lebih adil.

“Komposisi ras juri memang penting,” kata Sam Sommers, profesor psikologi di Tufts University, yang mempelajari stereotip, prasangka, dan keragaman kelompok.

“Bias tampaknya lebih mungkin terjadi ketika kita memiliki juri yang homogen atau tidak beragam. Dengan juri yang beragam tampaknya menghadirkan diskusi yang lebih luas dan mewakili fakta-fakta dalam kasus tersebut.”

Sommers melakukan penelitian dengan juri-juri percobaan yang terdiri dari enam orang – beberapa menggunakan juri yang semuanya kulit putih, dan lainnya dengan dua juri kulit hitam dan empat juri kulit putih.

Ia mendapati dewan juri yang beragam cenderung tidak berasumsi sebelumnya mengenai kesalahan terdakwa, lebih teliti dalam memeriksa bukti, lebih jelas tentang fakta dalam kasus dan cenderung mempertimbangkan rata-rata 11 menit lebih lama daripada juri yang semuanya kulit putih.

Selain itu, Sommers mengatakan penelitian lain menunjukkan bahwa juri kulit putih menghukum lebih keras terdakwa kulit hitam daripada juri yang beragam.

Reaksi massa yang berkumpul di George Floyd Square di Minneapolis, Minnesota, setelah mantan polisi Minneapolis, Derek Chauvin, diputus bersalah dalam kasus pembunuhan George Floyd, Selasa, 20 April 2021.

Reaksi massa yang berkumpul di George Floyd Square di Minneapolis, Minnesota, setelah mantan polisi Minneapolis, Derek Chauvin, diputus bersalah dalam kasus pembunuhan George Floyd, Selasa, 20 April 2021.

Risetnya menunjukkan bahwa para juri kulit putih cenderung lebih berhati-hati saat mengevaluasi bukti jika berada dalam panel juri yang beragam.

“Ada hal mengenai mengetahui atau memperkirakan akan ada percakapan dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda, atau yang memiliki perspektif berbeda, yang memaksa kita untuk meningkatkan permainan kognitif kita dan memproses informasi dengan lebih hati-hati,” kata Sommers.

Meski demikian secara keseluruhan, juri yang beragam adalah pengecualian, bukan menjadi aturan hukum.

“Saya terkejut mengetahui bahwa juri (Chauvin) ini beragam, karena biasanya tidak demikian di negara bagian mana pun di negara ini. Tidak ada negara bagian yang benar-benar melakukannya dengan benar,” kata Lila Silverstein, seorang pengacara di Washington Appellate Project.

“Juri seharusnya mencerminkan komunitas mereka, dan para pendiri bangsa kita menganggapnya sebagai elemen penting dari demokrasi, karena pemerintah tidak boleh memutuskan siapa yang harus dipenjara, atau bahkan siapa yang harus menang dalam sengketa perdata. Warga biasa yang memiliki hak itu.”

Silverstein mengatakan ada kendala besar yang membuat kaum minoritas tidak bisa menjadi juri.

“Sebagian orang tidak menjadi juri karena tidak sanggup melakukannya. Sebagian harus tinggal di rumah dan mengasuh anak-anaknya. Sebagian lainnya tidak menjadi juri karena pernah dihukum pidana sebelumnya dan beranggapan hal itu mendiskualifikasi mereka,” kata Silverstein.

“Sebagian tidak bisa menjadi juri karena punya pengalaman negatif dengan sistem hukum, seperti diberhentikan saat mengemudi karena berkulit hitam dan mereka tidak ingin menjadi bagian apa pun dari sistem seperti itu.”

Mantan polisi Minneapolis, Derek Chauvin, dikawal oleh petugas setelah diputus bersalah dalam kasus pembunuhan George Floyd, Selasa, 20 April 2021

Mantan polisi Minneapolis, Derek Chauvin, dikawal oleh petugas setelah diputus bersalah dalam kasus pembunuhan George Floyd, Selasa, 20 April 2021

Praktik lain yang menurut Silverstein perlu diubah termasuk mengirim panggilan tugas juri hanya melalui surat, dibandingkan melalui email, sehingga akan meningkatkan kemungkinan panggilan menjadi juri akan diterima. Dan daftar calon juri perlu diambil dari berbagai sumber dan tidak terbatas pada orang-orang yang memiliki SIM, tambahnya.

Meskipun mereka bisa sampai ke gedung pengadilan, calon anggota juri dari kelompok minoritas bisa menjadi yang pertama yang disingkirkan.

“Sangat jelas terlihat bahwa jaksa di seluruh negeri – dan mungkin sekarang jumlahnya sudah berkurang, mereka secara sistematis berupaya menyingkirkan orang kulit hitam sebagai juri,” kata Alan Tuerkheimer, konsultan juri Chicago.

“Saya kira secara tradisional masalah ini berasal dari jaksa penuntut, di mana ada terdakwa kulit hitam, berusaha mengecualikan anggota juri kulit hitam … dan itu harus diperjuangkan oleh sistem peradilan selama bertahun-tahun.”

Sebagai seorang ahli yang sudah bekerja dengan jaksa dan tim pembela, Tuerkheimer bertujuan menemukan juri yang disukai untuk kliennya, termasuk menyingkirkan juri yang bisa bias. Jaksa penuntut, katanya, sejak lama berasumsi bahwa seorang juri kulit hitam akan lebih bersimpati kepada terdakwa kulit hitam. [my/ka]



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Madhuri Dixit merayakan 27 tahun 'Anjaam'

Kam Apr 22 , 2021
Mumbai (Maharashtra) [India], 22 April (ANI): Kecantikan awet muda Bollywood Madhuri Dixit Nene pada hari Kamis merayakan 27 tahun film thriller psikologis ‘Anjaam’ dengan berbagi gambar throwback dari film tersebut. Bintang ‘Kalank’ itu turun ke Twitter dan membagikan gambar throwback dari film tersebut saat dia memperingati 27 tahun landmark film tersebut. Foto-foto tersebut memperlihatkan Madhuri berpose dengan Shah Rukh Khan saat mereka berpose untuk sebuah gambar. Jepretan kedua melihat Madhuri […]