Kiat Mengidentifikasi Hoaks – MAJALAH EKSEKUTIF # terbit sejak 1979 –

  • Bagikan
banner 468x60


EKSEKUTIF.COM, JAKARTA – Masyarakat perlu mengetahui apa sebenarnya hoaks, agar tidak menjadi korban maupun secara tidak sengaja menyebarkan berita hoaks. Sebab pembuat dan penyebar hoaks bisa terjerat Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), berpotensi menjadi rekam jejak digital yang buruk dan suatu saat bisa menjadi reputasi buruk seseorang.

banner 336x280

“Sekarang cyber polisinya, hati-hati teman-teman. Jangan sampai nanti kita yang dilaporkan menyebarkan,” kata Golda Siregar, Senior Consultant at Power Character saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat I, pada Selasa (14/9/2021).

Dia mengatakan hoaks bisa berkembang, terutama di Indonesia karena maraknya identitas anonim, kecakapan literasi yang rendah di mana literasi termasuk dalam hal memahami dan mengerti dalam memproses pesan dan menggunakan perangkat digital. Selain itu hoaks juga berkembang akibat budaya tidak berpikir kritis, dan menjadi sumber penghasilan bagi pihak-pihak tertentu yang memanfaatkannya.

Identifikasi ciri-ciri hoaks, supaya terhindar dari termakan berita bohong atau pun menyebarkan. Antara lain hoaks biasanya judulnya click bait, sensasional dan bersifat provokatif. Sumber berita dari hoaks juga tidak jelas, bahkan kadang tidak menyebutkan nara sumbernya. Perhatikan juga dari segi gambar berita, biasanya memakai foto lama yang kemudian diedit. Selanjutnya agar tidak termakan hoaks bandingkan dengan informasi dari situs-situs yang dapat dipercaya.

Webinar Literasi Digital di Kota Bekasi, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber seperti Sandy Natalia, Co-Founder of Beauty Cabin, Dee Rahma, Digital Marketing Strategist, dan Diena Haryana, Founder SEJIWA.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 1 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini



Source link

!-- Composite Start -->
  • Bagikan