Kematian Aktor “Black Panther” Diharapkan Gugah Kesadaran Kanker Usus Besar di Ghana


Pada saat seorang pasien mendatangi Dr. Clement Edusa dengan penyakit kanker usus besar, seringkali tindakan itu sudah terlambat.

Direktur medis Pusat Layanan Kesehatan Sweden-Ghana itu mendapati kanker yang diderita oleh pasien tersebut telah salah didiagnosis dan telah menyebar. Hal itu terjadi oleh karena kebanyakan mereka mencari tempat berobat lain, termasuk mengunjungi klinik kecil yang minim fasilitas atau mencari pengobatan alternatif, seperti dukun.

Para petugas medis di koridor bagian radioterapi di Rumah Sakit Pendidikan Korle Bu, di Accra, Ghana, 24 April 2012. (Foto: Reuters)

Para petugas medis di koridor bagian radioterapi di Rumah Sakit Pendidikan Korle Bu, di Accra, Ghana, 24 April 2012. (Foto: Reuters)

Dokter Edusa mengatakan, walau jumlah kasus kanker usus besar tidak banyak di Ghana, ia memperkirakan kasusnya akan bertambah seiring dengan perubahan gaya hidup. Oleh karena itu perlu adanya sistem untuk mendeteksi penyakit tersebut dan menyediakan pengobatan yang terjangkau.

“Tentu jumlah kasus akan bertambah. Namun, jangan lupa bahwa di luar itu semua, kita memerlukan adanya sebuah struktur untuk melakukan penapisan (screening),” ujar Dr. Clement.

Tanpa program nasional yang bisa mengajak orang-orang untuk melakukan penapisan atau pemeriksaan awal, imbuh Dr. Clement, para pasien tidak akan datang lebih awal untuk mencari pengobatan.

“Jadi, angka penderita akan bertambah, juga pasien yang datang terlambat untuk berobat, tentunya juga bertambahnya angka kematian” tuturnya.

Sementara para penggemar masih berduka dengan kepergian aktor Chadwick Boseman, yang meninggal belum lama ini akibat kanker usus besar, seorang aktor sekaligus pendeta yang sangat dicintai di Ghana, Bernard Nyarko, juga mengalami hal yang serupa tahun ini.

Para pasien kanker di ruang kemoterapi di Rumah Sakit Pendidikan Korle Bu di Accra, 24 April 2012. (Foto: Reuters)

Para pasien kanker di ruang kemoterapi di Rumah Sakit Pendidikan Korle Bu di Accra, 24 April 2012. (Foto: Reuters)

Anaknya, Gideon Nyarko, mengatakan penyakit yang diderita oleh ayahnya muncul secara bertahap. Pada saat ia mendapat diagnosis kanker usus besarnya, para dokter sudah tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah menyebar.

“Dia pergi ke rumah sakit, tetapi mereka tidak dapat mendiagnosis penyebab utama penyakitnya. Mereka malah menghubung-hubungkannya dengan penyakit lain. Akhirnya kemudian kami menemukan bahwa itu ternyata kanker usus besar. Itu pada 2019,” tutur Gideon

Waktu Gideon melihat foto-foto bagaimana Chadwick Boseman mengalami penurunan berat badan, ia merasa ada persamaan bagaimana ayahnya tampak menjelang menemui ajal.

Ia berharap kejadian terhadap Chadwick Boseman dan juga ayahnya dapat menyadarkan masyarakat betapa pentingnya mendeteksi penyakit tersebut sejak dini serta pelatihan pelayanan kesehatan yang lebih baik.

Harapan terakhir dari ini semua adalah orang-orang dapat semakin sadar akan tanda-tanda dan risiko kanker, termasuk kanker usus besar, dan pada akhirnya semua pemeriksaan, diagnosis dan pengobatan akan ditanggung oleh pemerintah. [aa/ft]



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Selandia Baru Lakukan Referendum untuk Legalkan Ganja dan Eutanasia

Jum Okt 16 , 2020
Warga Selandia Baru bersiap untuk memutuskan dua masalah sosial penting pada pemilu hari Sabtu (17/10, yaitu apakah akan melegalkan ganja dan eutanasia. Associated Press melapokan bahwa suara “ya” pada kedua referendum tersebut dapat dikatakan akan membuat negara berpenduduk lima juta itu menjadi salah satu negara yang lebih liberal di dunia. Jajak pendapat menunjukkan referendum eutanasia kemungkinan akan lolos, sementara hasil referendum dari masalah ganja masih belum dapat dipastikan. Eutanasia adalah […]