Kehidupan Toleransi di Dunia Maya, Bisa Melawan Ujaran Kebencian

  • Bagikan
banner 468x60


EKSEKUTIF.COM, JAKARTA – Teknologi internet berkembang semakin pesat, pertukaran informasi di segala bidang pun menjadi semakin cepat, terlebih sekarang setiap orang bisa dengan mudah mengupdate berita lewat ponsel pribadi. Segala macam informasi yang bertebaran di internet pun bisa memberi dampak negatif, jika individunya tidak bisa memfilter dan memahami nilai kehidupan masyarakat Indonesia yang multikultural.

“Internet dan media sosial bisa dijadikan alat untuk melakukan tindakan kejahatan, penipuan, terorisme, eksploitasi anak online sampai penyebaran ujaran kebencian yang berpotensi SARA,” Ujar Pipit Djatma, Fundraiser Consultant & Psychososial Actvist IBU Foundation saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat I, pada Selasa (28/9/2021).

Lebih jauh dia mengungkapkan motif orang melakukan ujaran kebencian, yaitu karena faktor di dalam diri seperti tidak bisa menanggapi dengan baik perbedaan pendapat. Kemudian saat tidak menyukai sesuatu dan ditunjukan di media sosial, serta pengungkapan emosi yang tak terkontrol. Sementara faktor dari luar diri biasanya terpengaruh dari lingkungan pertemanan dan komunitas.

Pipit mengungkapkan, masyarakat perlu memahami tentang konsep negara Indonesia yang multikultural dengan keragamannya dari suku bangsa serta agama. Ruang digital dan media sosial dengan 202,6 juta pengguna di Indonesia membutuhkan sikap toleransi serta menghargai perbedaan. Karena mekipun tak terbatas, penggunanya tetap memikiki etika berinternet dan di Indonesia hal tersebut diatur dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Berinteraksi atau berkolaborasi pada hal-hal yang positif. Menjadi diri sendiri, tidak memaki maupun provokasi saat menyampaikan kritik. Perlunya menghargai perbedaan, cek dan ricek kebenaran berita atau situs yang dibuka serta menjaga netiket,” tuturnya.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Andry Hamida, Head of Creative Visual Brand Hello Monday Morning, Maria Natasya, seorang Graphic Designer dan Rino Kaprodi Teknik Informatika Universitas Buddhi Dharma.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 1 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini



Source link

  • Bagikan