Isu Penanganan Covid-19 Dominasi Debat Cawapres AS 



Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence membela penanganan pandemi Covid-19 oleh pemerintahan Trump, sementara penantangnya dari Partai Demokrat, Kamala Harris, mengecam “kegagalan terbesar dari pemerintahan manapun” dalam debat calon wakil presiden (cawapres ) pada Rabu (7/10) malam waktu setempat.

Debat cawapres yang berlangsung santun itu didominasi soal pandemi virus corona yang telah menewaskan lebih dari 210.000 orang Amerika.

Ketika Presiden Donald Trump dalam proses pemulihan dari Covid-19 di Washington, Harris menyatakan dia tidak mau mendapat vaksin Covid-19, jika Presiden dari Partai Republik itu menyetujui vaksin itu tanpa dukungan dari kalangan medis profesional.

Pence, yang memimpin gugus tugas virus corona mengakui bahwa “bangsa kita melewati masa yang sangat menantang tahun ini.” Namun dia menambahkan “Saya ingin rakyat Amerika tahu bahwa sejak hari pertama, Presiden Trump mengutamakan kesehatan rakyat Amerika.”

Kata Pence, Presiden menjanjikan jutaan dosis pengobatan — yang belum diumumkan rinciannya–sebelum akhir tahun ini.

Ia juga mengecam keraguan Harris terhadap pernyataan Trump mengenai calon vaksin: “Senator, saya memohon kepada Anda: Berhenti bermain politik dengan kehidupan masyarakat.”

Para kandidat berdebat di auditorium, di mana setiap tamu yang tidak mengenakan masker akan ditolak untuk masuk, sebuah latar yang luar biasa untuk satu-satunya debat cawapres 2020.

Tertinggal dalam jajak pendapat, Trump dan Pence harus berpacu dengan waktu. Hari Pemilu tinggal kurang dari empat minggu lagi, dan jutaan orang Amerika sudah memasukkan kartu suaranya.

Kamala Harris yang berusia 55 tahun adalah putri dari ayah Jamaika dan ibu India. Ia juga mantan jaksa penuntut yang mempertanyakan para pejabat yang ditunjuk dalam pemerintahan Trump.

Pence yang berusia 61 tahun adalah mantan gubernur Indiana dan mantan pembawa acara radio, seorang Kristen evangelis yang terkenal karena merakyat dan kesetiaannya kepada Trump. [ps/ft]



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Akademisi Tolak UU Cipta Kerja

Kam Okt 8 , 2020
Guru Besar dan akademisi dari berbagai universitas di Indonesia menyatakan menolak Omnibus Law Undang-Undang (UU) Cipta Kerja oleh DPR bersama pemerintah pada 5 Oktober lalu. Pengesahan ini dinilai sangat cepat dan sarat kepentingan ekonomi dan politik, serta mengabaikan peran serta publik yang diatur dalam Pasal 96 UU Nomor 12 Tahun 2011 jo UU No. 15 Tahun 2019 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Guru besar Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, Prof. Susi Dwi […]