Ini Data Pribadi yang Harus Dilindungi di Ruang Digital

  • Bagikan
banner 468x60


Eksekutif.comPenting bagi kita mengecek data-data kita karena saat ini data-data sudah terintegrasi satu sama lain. Di era digitalisasi, identias pribadi menyangkut media sosial.

Data pribadi dapat dikatakan sebagai data terkait kehidupan seseorang yang dapat diidentifikasi dan dikombinasikan dengan informasi lainnya, melalui sistem elektronik dan atau non elektronik.

banner 336x280

Saat ini, orang lain mudah dalam menemukan data pribadi karena adanya jejak digital. Misalnya, orang yang baru kenalan dengan mudah mengetahui nama lengkap dan kehidupan kita hanya melalui media sosial yang dicarinya melalui Google.

“Data pribadi yang paling umum adalah nama, riwayat pekerjaan, kontak informasi, dan alamat. Kemudian, terdapat data pribadi yang sifatnya sensitif, seperti agama, kesehatan, kondisi fisik dan mental, data keuangan, dan kehidupan rumah tangga,” jelas Asep H. Nugroho, Dosen Fakultas Teknik UNIS, saat menjadi pembicara dalam Webinar Literasi Digital di wilayah Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (23/7/2021).

Asep mengatakan, data pribadi sensitif ini memerlukan perlindungan khusus, karena jika diketahui orang lain ada kemungkinan membahayakan dan merugikan privasi orang yang bersangkutan. Data pribadi tersebut, baik umum maupun sensitif keduanya sama-sama memiliki risiko adanya tindak kejahatan. Pada kejahatan umum, risikonya seperti penipuan, penawaran produk, dan sebagainya.

Sementara itu, pada data pribadi sensitif, munculnya prasangka negatif dari orang lain. Contohnya, seseorang pernah menjalankan hukuman penjara, ketika orang lain mengetahuinya, maka akan timbul prasangka negatif dan orang tersebut mendapat bullying atau dikucilkan sekitar.

“Data pribadi yang harus dilindungi antara lain nomor kartu keluarga, KTP, NIK dan nama ibu kandung, nomor HP, foto diri sedang memegang KTP, email, dan nomor kartu ATM,”

Ia juga menyampaikan tentang data siap panen, yaitu data yang sukarela diberikan, data yang diamati, dan data yang disimpulkan. Data sukarela contohnya saat kita melakukan registrasi aplikasi tanpa sadar kita memberikan data sukarela kepada aplikasi tersebut.

Data yang diamati merupakan rekam jejak digital kita yang diperhatikan oleh orang lain. Data yang disimpulkan hampir sama dengan data yang diamati, dengan memperhatikan rekam jejak digital kemudian menyimpulkan personality seseorang.

Ketika seseorang abai terhadap data pribadi, risikonya ialah kehilangan rasa aman, digunakan untuk pinajam online ilegal, membuat akun palsu sosial media, debit otomatis dari penyedia aplikasi, serta mendaftar sim card ilegal.

Alasan utama lainnya dalam menjaga data pribadi di antaranya, menghindari intimidasi online, mencegah penyalahgunaan data pribadi oleh oknum tidak bertanggung jawab, dan sebagai hak kendali atas data pribadi.

Menurut Asep, dalam menjaga data-data pribadi kita sebagai pemilik data dapat melakukan tips berikut, yaitu menggunakan security checkout, mengaktifkan two factor authentication, menjaga batasan di media sosial, mengganti password secara berkala. Kemudian, selalu mengunduh aplikasi dari situs resmi dan memperhatikan larangan mengunjungi suatu situs.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar Literasi Digital wilayah Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (23/7/2021) juga menghadirkan pembicara, Maria Ivana Simon (Graphic Designer), Intan Maharani (COO Positivibe), Santi Indra Astuti (Universitas Islam Bandung – Japelidi), dan Janna S. Joesoef.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 

 159 kali dilihat,  19 kali dilihat hari ini



Source link

!-- Composite Start -->
  • Bagikan