HSBC Summit 2021: Daya Tarik Bisnis dan Investasi Indonesia Masih Menggoda  

  • Bagikan
banner 468x60


EKSEKUTIF.com –Mengusung tema “Driving Indonesia’s Economy as ASEAN’s Growth Powerhouse”, HSBC Summit 2021 diadakan secara virtual yang membahas tentang ekonomi terkini Indonesia, prospek investasi secara global dan potensinya di masa depan.

banner 336x280

Forum ini dikemas dalam webinar interaktif dengan menghadirkan pembicara nasional dan internasional, perwakilan pemerintah Indonesia, pakar terkenal, analis atau peneliti ekonomi, tokoh masyarakat, termasuk pemain dari industri utama. Dari rangkaian kegiatan, hari ini Rabu (25/08) diadakan press conference dan webinar bertajuk “Driving Indonesia’s Economy as ASEAN’s Growth Powerhouse’ dengan menghadirkan keynote speech Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Pembicara Utama Seth Godin, seorang pengusaha dan penulis buku best seller asal AS yang membahas pentingnya inovasi dan strategi marketing di era digital ini.

Dalam sambutannya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, bahwa pemerintah Indonesia terus berkomitmen untuk memperbaiki daya saing dan iklim investasi, melalui reformasi struktural, antara lain dengan memberikan kemudahan dari aspek regulasi dan perizinan. Menyederhanakan prosedur perizinan bisnis dan investasi, menyediakan perlindungan lingkungan yang lebih baik. Dalam kaitan ini, pemerintah saat ini juga fokus penanganan pandemi Covid-19 agar makin kondusif untuk mendukung kegiatan dunia usaha dan investasi.

Efektivitas pengendalian laju penularan Covid-19 akan menjadi kunci, agar pemulihan ekonomi berjalan optimal dan target pertumbuhan ekonomi untuk tahun ini dan tahun depan dapat tercapai. Pemerintah lanjutnya juga optimistis dapat mencapai angka pertumbuhan ekonomi di kisaran 3,7 hingga 4,5% di tahun 2021 dan dengan menyiapkan berbagai strategi kebijakan ekonomi tersebut melalui program pemulihkan ekonomi, termasuk mendukung strategi transformasi ekonomi digital.

Seth Godin yang masuk “New York Times’ Best-Selling Author”, dalam kesempatan itu juga menyampaikan pandangan global dan tren dunia marketing dewasan ini. Termasuk mengenai bagaimana perusahaan dan individu dapat menggali berbagai peluang yang dapat timbul dalam iklim ekonomi global yang penuh tantangan disrupsi di tengah kemajuan teknologi informasi dan tren digitalisasi ini.

Forum ini juga mendatangkan pelaku industri e-commerce dan industri utama lainnya, asosiasi bisnis, serta analis dan peneliti ekonomi. Di antaranya Kevin Aluwi Co-founder and CEO of Gojek, Edy Widjaja Partner, Bain & Company, Patrick Walujo Co-founder and Managing Partner, Northstar Group, Philips J. Vermonte Executive Director of Center for Strategic and International Studies (CSIS), Shinta Kamdani Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Internasional Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), serta beberapa perwakilan dari HSBC.

Presiden Direktur PT Bank HSBC Indonesia, Francois De Maricourt mengungkapkan, selama dapat mempertahankan fokus pada reformasi yang ramah pertumbuhan dan terus melakukan transformasi dalam mengatasi hambatan pada sector bisnis dan investasi, Indonesia berpotensi menjadi tujuan investasi utama bagi para investor asing. Dalam jangka panjang, Indonesia dinilai akan meraih manfaat dari rancangan dan strategi ekonomi yang diciptakan melalui reformasi di bidang-bidang seperti peraturan investasi dan iklim usaha.

“Indonesia berhasil memposisikan diri dengan baik untuk bangkit dari COVID-19 dan memulai kembali pertumbuhan ekonomi yang pesat. Tetapi, ada tiga hal penting yang harus ditangani untuk memaksimalkan momentum pemulihan ini, yaitu – investasi yang berkelanjutan, transformasi dalam penyederhanaan regulasi, dan konektivitas digital,” tutur Presiden Direktur PT Bank HSBC Indonesia, Francois De Maricourt.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan Indonesia di masing-masing bidang tersebut:
1. Pemangku kebijakan dan bisnis harus fokus pada memastikan bahwa kombinasi ekonomi yang berkelanjutan dan hasil investasi Indonesia menjadikan Indonesia tujuan yang menarik bagi permodalan global, yang tertarik untuk menciptakan hasil/laba secara berkelanjutan. Diperkirakan bahwa hampir separuh dana yang dikelola dunia – sekitar US$43 triliun – disalurkan untuk output/hasil yang berkelanjutan. Dorongan kemungkinan akan meningkat setelah laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang diluncurkan bulan ini, yang mengungkapkan bahwa tujuan Paris Agreement tidak akan tercapai tanpa pengurangan emisi secara siginifikan dan cepat.

2. Penting bagi pemerintah untuk terus menciptakan ekosistem yang memungkinkan ecommerce dan konektivitas digital berkembang pesat. Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna internet tertinggi di dunia yaitu sekitar 196 juta, namun lebih dari seperempat populasi belum beranjak online. aSelain itu, Indonesia hanya menempati urutan ke-56 di dunia dalam hal akses ke teknologi. Upaya untuk meningkatkan infrastuktur, baik secara fisik dan kebijakan, seperti peluncuran konektivitas 4G ke 4,000 kabupaten dan sub-divisi tahun ini, merupakan langkah menuju ke arah yang tepat.

3. Terus berfokus pada langkah-langkah untuk mengurangi hambatan non-tarif, seperti perjanjian perdagangan bebas yang baru ditandatangani Indonesia, akan memberikan manfaat dan menjadi panutan bagi kawasan ASEAN. Studi IMF 2019 memperkirakan bahwa jika Asia dapat mengatasi hambatan perdagangan dan investasi asing, hal itu akan mendorong pertumbuhan regional sebesar 15 persen.

Berbicara dalam HSBC Summit 2021 hari ini, Joseph Incalcaterra, Chief Economist ASEAN, HSBC Global Research mengatakan, selagi kawasan ASEAN, termasuk Indonesia, terus menghadapi tantangan besar akibat pandemi dan ketidakpastian ekonomi global, dengan mempercepat distribusi vaksin dan terus melakukan reformasi ekonomi, Indonesia dapat membangun landasan untuk mempercepat pemulihan ekonomi. “Kami semakin optimis dnegan prospek pemulihan ekonomi Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan ini,” ujarnya.

Francois menutup dengan dengan mengatakan, bahwa Inodnesia telah berupaya untuk mentransformasi iklim usahanya agar lebih ramah bagi investor. Jika Indonesia terus menjalankan ini dengan disiplin, maka Indonesia pun akan semakin menarik bagi investor mancanegara. (ACH)

 3 kali dilihat,  3 kali dilihat hari ini



Source link

!-- Composite Start -->
  • Bagikan