Etika dan Budaya Harus Jadi Dasar Interaksi Sosial saat Berinternet

  • Bagikan
banner 468x60


JAKARTA,- Pengguna aktif media sosial di Indonesia mencapai 170 juta, survey tahun 2021 menyebutkan Indonesia termasuk dalam 10 besar negara yang kecanduan media sosial. Hal ini bisa dilihat dari rata-rata warganya yang menghabiskan 3 jam 14 menit untuk sosial media, jumlah pengguna sosial media setara 61,8% dari total populasi.

banner 336x280

“Kita sadari bahwa Indonesia negara majemuk, multikultural, bahasa daerah beragam sekali ada 716, artinya ini adalah indikator kecakapan budaya digital culture harus menyadari bahwa kita di era digital, Indikator pertama dari kecakapan Bhineka Tunggal Ika di ruang digital perlu dipahami,” kata Ari Budi Wibowo, Kepala Bidang Kemitraan Siber Kreasi saat Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat I, Senin (26/7/2021).

Lebih jauh dia mengatakan, partisipasi dan kolaborasi aktif di dunia digital perlu menumbuhkembangkan nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tungga Ika. Nilai pancasila seerti cinta kasih, kesetaraan, harmoni dari keragaman, serta nilai demokratis dan gotong royong.

“Nilai kesetaraan di ruang digital jelas dibutuhkan berlandaskan Pancasila, sehingga jelas bahwa ujaran kebencian, pengucilan, perundungan sangat berlawanan denhan kesetaraan. Kita boleh mengkritik tapi bukan untuk polarisasi perpecahan, karena kita sangat multikulturalis,” sebutnya lagi.

Nilai demokratis dalam Pancasila juga menjamin kebebasan berekspresi, sehingga jika terjadi berbeda pandangan maka dapat dibuka ruang diskusi. Demokrasi diungkapkan Ari juga tidak bisa kita semaunya, harus ada kesadaran dalam mengakses dan mengelaborasi informasi publik, maka bukalah ruang diskusi yang sehat untuk membangun pemahaman bersama.

“Mengenai gotong royong kita harus memahami etiket semacam aturan saat berinternet sebagai warga negara digital. Contoh-contohnya seperti artis pindah agama lalu dicecar, padahal itu hak orang. Ada juga kata-kata yang tak berbudaya terkait binatang, kebodohan atau sifat, ketidakmampuan seseorang, dan kelakuan,” ujar Ari.

Oleh karenanya tidak mengherankan bila indeks demokrasi di Indonesia masih rendah, seperti yang diungkapkan Democracy Index pada 2020 menunjukan Indonesia berada pada peringkat 64 secara global dan peringkat 11 di Asia dan Australia dari 167 negara dengan skor total 6,48.

Dampak rendahnya pemahaman atas nilai Pancasila dan Bhinneka Tungga Ika ini juga dapat dilihat dari tidak mampunya memahami batasan kebebasan berekspresi dengan perundungan siber, ujaran kebencian, pencemaran nama baik atau provokasi yang mengarah pada perpecahan di ruang digital.

Ari mengungkapkan, menjadi warga digital yang pancasilais bisa dilakukan dengan berpikir kritis, gotong royong kolaborasi kampanye literasi digital. Mendukung toleransi keberagaman, memprioritaskan cara demokrasi, mengutamakan Indonesia. Warga digital harus bisa menjadikan ruang digital sebagai praktik berbudaya melalui aktivitas sehari-hari. “Sebarkan konten positif, inspiratif, edukatif, informatif, produktif dan menghibur. Jangan lupa jejak digital akan terekam,” tutur Ari

Webinar Literasi Digital di Jawa Barat I, Kabupaten Kuningan merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber seperti Dino Hamid, Ketua Asosiasi Promotor Musik Indonesia, Nandya Satyaguna seorang medical doctor, dan Dosen Universitas Multimedia Nusantara Sari Monik Agustin.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

 44 kali dilihat,  6 kali dilihat hari ini



Source link

!-- Composite Start -->
  • Bagikan