Ekonomi 170 Negara Tumbuh Negatif Akibat Corona

  • Bagikan


Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan dampak pandemi corona dirasakan merata di hampir semua negara sepanjang 2020. Itu terlihat dari ekonomi 170 negara yang tumbuh negatif pada tahun lalu. Termasuk Indonesia yang mengalami kontraksi 2,07 persen, dimana kontraksi terdalam terjadi pada kuartal II 2020 yang mencapai 5,3 persen.

Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati. (Foto: Facebook/Sri Mulyani Indrawati)

Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati. (Foto: Facebook/Sri Mulyani Indrawati)

“Seratus tujuh puluh negara mengalami kontraksi ekonomi tahun 2020 dan ini kondisi terburuk dalam 150 tahun terakhir. Itu studi Bank Dunia,” jelas Sri Mulyani Indrawati dalam diskusi daring bersama Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), Selasa (6/4/2021).

Sri Mulyani membandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih lebih baik dibandingkan negara-negara G20. Antara lain Perancis minus 9 persen, Inggris minus 10 persen dan Italia minus 9,2 persen. Kondisi yang sama dialami negara ASEAN lainnya seperti Singapura minus 6 persen, Filipina minus 9,6 persen dan Malaysia 5,8 persen.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat pemerintah harus mengambil kebijakan yang luar biasa atau extraordinary dengan memperhatikan semua bidang. Kata dia, berdasarkan data Dana Moneter Internasional (IMF) pada Oktober 2020, total ada dana stimulus sebesar 11,7 triliun dolar Amerika yang telah digelontorkan untuk penanganan corona di seluruh dunia. Sementara Indonesia telah mengeluarkan anggaran sebesar Rp695,2 triliun untuk penanganan corona tahun lalu.

“Kebijakannya adalah melindungi rakyat yang paling rentan. Karena dengan ekonominya tidak bergerak maka masyarakat kita menderita, terutama kelompok 40 persen ke bawah,” tambahnya.

INDEF: Indonesia Berpeluang di Tengah Kontraksi Ekonomi Dunia

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan Indonesia memiliki sejumlah peluang di tengah kontraksi ekonomi dunia. Salah satunya menjadi basis produksi dari barang-barang berteknologi tinggi seperti mobil listrik, energi terbarukan dan produk elektronik.

“Dari sisi lokasi kedekatan dengan sumber daya dan bahan baku Indonesia lebih unggul, misalnya soal mobil listrik dan pabrik baterai akan butuh nikel. Indonesia punya cadangan nikel yang besar,” jelas Bhima kepada VOA, Selasa (6/4/2021).

Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira Adhinegara. (Foto: screenshot)

Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira Adhinegara. (Foto: screenshot)

Bhima juga menilai Indonesia mampu melakukan ekspansi di bidang startup digital ke sejumlah negara di ASEAN. Sebagai contoh Gojek di Vietnam, Malaysia, Singapura. Kata dia, kenaikan ekonomi digital di kawasan akan mendorong sisi ekspor dan pendapatan masyarakat di banyak negara.

Namun, menurutnya, pemerintah perlu membuat sejumlah kebijakan untuk memaksimalkan peluang tersebut, mulai dari pengurangan biaya logistik, bunga kredit yang rendah, dan peran pemerintah daerah dalam mendukung investasi yang berkualitas. Dengan kebijakan tersebut, ia memperkirakan ekonomi Indonesia dapat tumbuh positif pada tahun ini.

“Tumbuh positif bisa, tapi perkiraan tidak akan di atas tiga persen. Butuh effort lebih untuk mendorong kenaikan konsumsi dan investasi. Dua komponen ini butuh lebih dari insentif Penanganan Ekonomi Nasional,” tambah Bhima.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat jumlah warga dunia yang positif terpapar corona telah mencapai 82.098.445 orang, dimana 1.792.597 orang meninggal per Selasa (6/4/2021). Sementara di Indonesia tercatat 1.542.516 orang dinyatakan positif dan 41.977 orang meninggal. [sm/em]



Source link

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *