Disebut Netizen Paling Tidak Sopan Se-Asia Tenggara, Indonesia Perlu Lebih Beradab di Dunia Digital

  • Bagikan
banner 468x60


EKSEKUTIF.COM, JAKARTA Menurut laporan Digital Civility Index (DCI) tahun 2020 yang mengukur tingkat kesopanan digital pengguna internet dunia saat berkomunikasi di dunia maya, menunjukkan warganet Indonesia menempati urutan terbawah di Asia Tenggara.

Tingkat kesopanan netizen Indonesia memburuk dengan beberapa faktor seperti dalam kompetensi literasi digital, faktor personal karena tidak dewasa dan emosional, serta faktor sosial budaya yang menyebabkan pergeseran nilai, melemahnya kepedulian sosial.

banner 336x280

“Media digital menghadirkan realitas virtual yang mempertemukan berbagai orang dalam ruang bersama. Masing-masing ruang ini memiliki nilai dan norma yang dianut anggotanya,” kata Eni Maryani, Dosen Fikom Universitas Padjajaran, saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat I, pada Jum’at (10/9/2021).

Keadaan tersebut menurutnya disadari setiap orang bahwa di dalam ruang digital akhirnya terikat pada norma dan nilai tertentu di dalamnya.

Sehingga muncul penilaian tidak sopan dan tidak beradab sebab memang disadari semua itu seharusnya ada. Selain itu nilai dan norma bersifat kontekstual, berbeda untuk tiap ruang yang berbeda pula anggotanya.

Akhirnya kesopanan di ruang pribadi dengan kelompok dan publik pun akan berbeda. Selain itu melihat pula relasinya, apakah dengan sahabat, bos, atau dosen.

Terkait sopan dan beradab di dunia digital, perlu diketahui perbedaan tingkatannya seperti sopan yang berarti hormat dan tertib menurut adab yang baik.

Sopan juga berarti baik kelakuan, tidak kasar, tidak meremehkan, maupun mempermalukan. Sementara beradab mencakup tingkah laku, tutur kata, sikap, pakaian dan sebagainya. Kata beradab juga berasal dari kata adab yang artinya berbudaya.

“Prinsip kesopanan dan keberadaban meliputi saat berinteraksi mengingat keberadaan orang lain, taat pada standar perilaku yang sama kita jalani dalam kehidupan nyata, serta dalam berbahasa menggunakan kata-kata yang sopan,” sebut Eni.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.

Di webinar kali ini hadir juga nara sumber lainnya seperti Heni Susilawati, Dosen Program Studi Managemen FE UNIKU, Uca Somantri, Kepala Dinas Pendidikan Kuningan, dan Muh. Nurfajar, Muharom Relawan TIK Indonesia.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 81 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini



Source link

!-- Composite Start -->
  • Bagikan