Dampak Hoaks dan Ancaman Pidana UU ITE

  • Bagikan
banner 468x60


JAKARTA,- Istilah hoax mulai dipergunakan masyarakat sekitar tahun 1808, hoax berasal dari kata hocus ini mempunyai arti mengelabui. Hocus sendiri merupakan penyingkatan dari hocus pocus, semacam mantra dari aksi pesulap di atas panggung. Dalam bahasa Indonesia hoax ditulis sebagai hoaks.

banner 336x280

Di era serba digital, masyarakat harus mampu menggunakan internet dengan penuh tanggung jawab. Serta mengetahui dampak yang bisa ditimbulkan dari sekadar mengunggah maupun mengomentari sesuatu di ranah digital lewat beberapa platform social media.

Data dari internetworldstats.com Indonesia masuk sebagai 20 negara pengguna internet terbanyak di dunia, mengalahkan Brazil dan Jepang. Hal ini membuat Indonesia dianggap melek digital. Akan tetapi jumlah pengguna internet di Indonesia berbanding terbalik dengan literasinya yang justru masih rendah.

“Teknologi dan internet ini menjadi alat yang penting untuk membuat kemudahan akses, sayangnya kemampuan penggunanya untuk menyaring informasi dengan baik dan benar,” ujar Syarief Ramaputra, Fact Checker dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat I, Senin (6/9/2021).

Tingkat literasi digital yang masih rendah membuat Indonesia rawan dengan berita hoaks atau berita palsu. Karena itu masyarakat perlu mengenali ciri-ciri hoaks. Antara lain hoaks muncul dengan judul bombastis, alamat website biasanya tidak jelas, tidak mencantumkan nama penulis dan alamat redaksi, narasinya provokatif, memanipulasi foto dan keterangan gambar, serta meminta dishare atau divitalkan.

“Ada juga konsepnya yang berupa link, modusnya seperti itu hati-hati bisa jadi link yang dibagikan itu berusaha untuk mencuri data-data kita lewat link tersebut,” kata Syarief.

Dampak berita hoaks sendiri sangatlah merugikan masyarakat. Bahkan bksa menimbulkan perpecahan, memicu ketakutan, menurunkan reputasi, membingungkan, membuat fakta jadi sulit dipercaya, hingga bisa menimbulkan korban jiwa.

Begitu berbahayanya hoaks, untuk menciptakan ekosistem digital yang sehat dan positif masyarakat sangat perlu untuk sering saring berita palsu dengan mengecek ulang sumbernya dan bila tidak yakin kebenarannya berhenti dengan tidak menyebarkannya. Apalagi sekarang terkait informasi digital sudah diatur dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE ) di mana pelakunya bisa ditindak hukuman pidana.

Webinar Literasi Digital wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat I, kali ini menghadirkan pula nara sumber lainnya seperti Maria Ivana Simon, seorang Graphic Designer, Loka Hendra, Head of Food & Beverage Cinepolis Indonesia, dan Nandya Satyaguna, seorang Medical Doctor.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 13 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini



Source link

!-- Composite Start -->
  • Bagikan