Dampak Adiksi Gawai Mempengaruhi Emosi, Akademis, dan Karakter Anak

  • Bagikan
banner 468x60


EKSEKUTIF.COM – Anak-anak di masa berkembangnya teknologi banyak yang kecanduan terhadap gadget. Bahkan, tidak jarang kita lihat saat ini anak balita setiap harinya selalu tunduk untuk menonton konten di platform internet. Tentu, kebiasaan ini bukanlah pilihan baik untuk dipertahankan.

banner 336x280

Sebagai orang tua, kita perlu memahami dan mengerti adanya adiksi gawai yang berdampak buruk pada anak. Dampak adiksi gawai mempengaruhi fisik, emosi, akademis, dan karakter pada anak.

Dalam paparan dari Diena Haryana selaku Pendiri SEJIWA, mengenai penelitian dari ahli otak, adiksi gawai ini mempengaruhi kinerja dari Pre Frontal Cortex (PFC) pada anak. Apabila PFC ini rusak maka pembentukan karakter anak menjadi kacau. PFC pada dasarnya berperan dalam menghasilkan rasa empati, bijak, dan fokus anak.

Rusaknya PFC karena adiksi gawai ini disebabkan oleh stimulus dopamin yang berlebihan. Dopamin sebagai hormon yang membuat seseorang merasa senang ini ternyata berbahaya jika diproduksi berlebihan. Dopamin berlebihan mengakibatkan tertutup dan mengecilnya PFC mengganggu kinerjanya,

“Anak-anak yang teradiksi gawai ini butuh perhatian luar biasa dari kita. Akan tetapi, yang bisa kita lakukan tentunya adalah mencegah. Karena kalau sampai kita harus membuat anak ini sembuh dari gawai, maka memerlukan terapis dari psikiater atau psikolog. Orang tua perlu mendampingi mereka di era digital ini,” jelas Diena, selaku pembicara di Webinar Literasi Digital, wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (30/7/2021).

Dalam adiksi gawai juga, beberapa diantaranya terdapat unsur pornografi. Kecanduan pornografi ini berbahaya, terutama untuk anak karena dapat merusak dan mempengaruhi 5 bagian otak sekaligus. Kita perlu waspada dengan pornografi di internet. Penelitian dari Kemenkes dan Kemendikbud tahun 2017 membuktikan, 95% anak SMP dan SMA telah terpapar pornografi dan 4% di antaranya mengalami adiksi ringan.

Anak sering kali mengikuti dan meniru apa yang orang tua lakukan. Termasuk dengan kebiasannya bermain gawai. Bisa jadi, kita sebagai orang tua juga terlalu sering terpaku dengan gawai yang ada sehingga anak mencontoh hingga kecanduan.

“Jangan sampai kita juga kebiasaan dan obsesi dengan gawai. Maka, kita berikan anak kita hiburan gawai agar tidak mengganggu aktivitas orang tua. Apalgi tidak diberikan parental control dan screen time,” tambahnya.

Oleh karena itu, sebagai orang tua kita juga wajib menjadikan anak kita sebagai netizen yang unggul dengan cerdas, berkarakter, dan mandiri (CBM). Dalam membentuk netizen unggul CBM ini, orang tua harus selalu mendampingi anak saat bermain gawai dan berinternet. Jika anak telah mampu menjadi netizen unggul, anak juga akan mampu menggunakan internet dengan bijak, kritis, dan bertanggung jawab.

Untuk menekan adiksi anak, orang tua harus mampu dekat dengan anak dan membuat mereka selalu antusias dalam bermain. Dengan cara itu, waktu anak bermain dengan gawai dan tanpa gawai menjadi seimbang. Suasana yang ramah dan hangat dalam keluarga juga lebih memudahkan orang tua dan anak dalam membuat kesepakatan terkait penggunaan internet.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (30/7/2021) juga menghadirkan pembicara, Monica Eveline (Digital Strategist Diana Bakery), Fibra Trias Amukti (Editor in Chief Mommies Daily), Okky Gunadi (Kepala SMA Nasional Plus BPK Penabur Bogor), dan Made Nandhika.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 4 kali dilihat,  4 kali dilihat hari ini



Source link

!-- Composite Start -->
  • Bagikan