Cegah Radikalisme di Dunia Digital

  • Bagikan
banner 468x60


EKSEKUTIF.COM, JAKARTA – Di Indonesia radikalisme itu sangat signifikan karena ada survei dari Alva Research Center dan Mata Air Foundation tahun 2017 mengatakan ada 23,4% mahasiswa, 23,3% pelajar SMA setuju dengan jihad untuk tegaknya Negara Islam atau khilafah. Selain itu 18,1% pegawai swasta dan 19,4% PNS yang juga tidak setuju dengan adanya ideologi Pancasila termasuk juga 9,1 pegawai BUMN.

Ada juga survei yang menyatakan bahwa generasi Z termasuk yang rentan terhadap isu radikal. lima daerah atau provinsi yang tidak terduga sebelumnya ternyata berpotensi adanya radikalisme itu tinggi yakni Bengkulu 58,58%, Gorontalo Sulawesi Selatan, Lampung dan Kalimantan Utara.

Lintang Ratri Rahmiaji, dosen FISIP Universitas Diponegoro mengatakan, “Konsep syariat Islam sangat kuat di Indonesia. Tetapi beberapa tahun terakhir itu menjadi sebuah isu yang sangat sensitif untuk dibicarakan di ruang digital. Membuat masyarakat Indonesia terpolarisasi bahkan lebih banyak berdebat mengenai hal ini,” ungkapnya saat menjadi pembicara dalam Webinar Literasi Digital Nasional di Kabupaten Cirebon Jawa Barat, Rabu (22/9/2021).

Jadi bagaimana menjadi toleran dan welas asih di ruang digital? Lintang menegaskan, masyarakat Indonesia yang sudah masuk dalam ruang digital harus kembali lagi pada nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Nilai-nilai Pancasila ini sangat bisa diterapkan di era digital saat ini, di saat perbedaan itu semakin menonjol dan dijadikan masalah. nasionalisme semakin luntur Pancasila dan Bhineka Tunggal ini tepat untuk dijadikan acuan hidup.

Menyangkut soal agama sesuai dengan sila pertama mengenai ketuhanan yang maha Esa. Nilai utamanya cinta kasih, saling menghormati perbedaan dan kepercayaan di ruang digital. “Artinya kita tidak semestinya karena ada perbedaan langsung melakukan unfollow atau block. Sebab kalau seperti itu algoritma internet kita akan berbeda, begitu kita mengklik yang kita sukai dan menghilangkan yang kita tidak sukai kita tidak akan mengenali perbedaan,” tuturnya.

Warganet akan dengan Echo Chamber dan filter bubble di ruang digital. Jika sudah begitu yang fanatik akan semakin cinta dan yang anti akan semakin benci sehingga kita akan semakin terpolarisasi.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Rabu (22/9/2021) ini menghadirkan, Aries Saefullah (relawan TIK Indonesia), Gunawan Lamri (CEO PT. Kuliner anak Indonesia), Richard Paulana (COO TMP Event) dan Aflahandita sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 8 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini



Source link

  • Bagikan