Cara Berpartisipasi Melawan Hoaks – MAJALAH EKSEKUTIF # terbit sejak 1979 –

  • Bagikan
banner 468x60


EKSEKUTIF.COM, JAKARTA – Hoaks atau berita bohong mudah meluas di masyarakat karena informasi hoaks umumnya bersifat sensasional hingga membuat penerimanya merasa perlu untuk menyebarkan informasi tersebut tanpa melakukan konfirmasi kebenaran.

banner 336x280

Menurut suveri masyarakat telematika Indonesia (Mastel) tahun 2019, sebanyak 43,5% mengaku berita hoaks biasanya didapat dari orang yang dipercaya, sementara 29,3% mengira informasi tersebut bermanfaat dan 18,9% mengira bahwa informasinya benar, dan 3,7% responden mengaku ingin menjadi yang pertama memberitahu informasi, sisanya 4,6% mengaku hanya iseng saat menyebarkannya.

“Masyarakat perlu mengetahui cara mengidentifikasi hoaks yakni dengan mengetahui ciri-cirinya,”kata Roky. R Tampubolon, seorang Praktisi Hukum saat menjadi nara sumber di Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat I, pada Rabu (22/9/2021).

Untuk mewaspadainya, masyarakat perlu berhati-hati dengan judul yang provokatif. Selain itu cermati juga alamat situs sumber berita, periksa fakta dan keberimbangan sumber berita, cek juga keaslian foto dan video, dan ikuti grup diskusi anti hoaks.

Sekarang sudah ada platform digital untuk cek kebenaran berita, seperti situs https://turnbackhoax.id, dan https://cekfakta.com.

“Teman-teman bisa berpartisipasi dengan cara lapor berita atau informasi hoaks kepada otoritas media terkait. Untuk media sosial seperti Facebook dan Instagram ada fitur report. Selain itu juga dapat mengadukan konten negatif tersebut ke Kementerian Kominfo langsung ke alamat email aduankonten@mail.kominfo.go.id,” tuturnya lagi.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Dino Hamid, Founder Famgofest & Latomochi, Sandy Natalia, Co-Founder of Beauty Cabin, dan Fiona Damanik, Konseler dari Universitas Multimedia Nusantara.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 6 kali dilihat,  6 kali dilihat hari ini



Source link

!-- Composite Start -->
  • Bagikan