Berbagai Media Digunakan Demi Terselenggaranya PJJ di Indonesia


Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mulai diberlakukan di sebagian besar sekolah di Indonesia dan di berbagai negara di dunia sejak Maret lalu pada puncak pandemi virus corona. Di Amerika, prasarana pembelajaran, termasuk ketersediaan sambungan internet tidak menjadi masalah. Selain itu, pemerintah lokal juga menyediakan laptop secara gratis untuk setiap peserta didik. Namun, bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Apa saja kendalanya dan bagaimana mengatasinya?

Eko Endri Wiyono, S.Pd., Guru Madrasah Tsanawiyah Negeri 2, Nganjuk, Jawa Timur

Eko Endri Wiyono, S.Pd., Guru Madrasah Tsanawiyah Negeri 2, Nganjuk, Jawa Timur

Eko Endri Wiyono adalah seorang praktisi pendidikan di Nganjuk, Jawa Timur. Guru dan wali kelas di Madrasah Tsanawiyah Negeri II Nganjuk ini kepada VOA mengatakan bahwa pembelajaran jarak jauh merupakan tantangan – terutama karena tiadanya kesempatan tatap muka dengan peserta didik – tetapi tetap dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan pengajaran pada keadaan darurat karena pandemi virus corona.

Eko mengatakan proses belajar mengajar harus dan bisa tetap berlangsung dengan menggunakan berbagai media yang ada. “Kita sebagai seorang pendidik senantiasa sigap. Ternyata dengan kesigapan kita dengan adanya multimedia yang sudah kita pelajari sebelum ada pandemi itu sangat bermanfaat. “

Eko mengatakan sangat beruntung karena sebelum pandemi dia telah belajar tentang media pembelajaran jarak jauh bersertifikat sehingga menurutnya, “PJJ dapat dilalui dengan normal-normal saja karena yang penting itu ada kemajuan, niat, dan itikad baik bahwa belajar itu tidak pandang bulu, tidak pandang tempat, tidak pada waktu.”

Eko mengatakan banyak media yang bisa dipergunakan dalam PJJ, mulai dari yang paling sederhana seperti SMS melalui ponsel biasa hingga tingkat yang lebih tinggi seperti smartphone dan laptop yang tersambung ke Internet. “Semua ini sudah tidak asing lagi di antara anak-anak didik kami,” katanya.

Selain itu, sekolah juga menyediakan modul bahan ajar untuk semua peserta didik. “Masing-masing siswa itu sudah memegang modul. Modul itu berupa buku panduan mini. Modul itu sebetulnya lebih mempersingkat atau lebih mempermudah bagi guru untuk menyampaikan materi dan itu tinggal (dilakukan) dari media daring, dan mengecek apa ada yang mengalami kelemahan atau kesulitan atau pun mengalami hambatan-hambatan lain dan untuk bapak/ibu guru juga tidak mengalami kendala berarti,” tukasnya.

Dr. Iwan Syahril, Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud

Dr. Iwan Syahril, Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud

Pengakuan Eko mengenai ketersediaan modul itu sesuai dengan pernyataan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Dr. Iwan Syahril, Ph.D. yang diwawancarai VOA belum lama ini.

“Kita sekarang sudah ada kurikulum darurat dan khusus untuk SD dan PAUD ada modul yang dibikin secara lebih lengkap khususnya untuk membantu guru dan orang tua dalam melakukan pembelajaran untuk anak-anaknya,” terang Iwan.

Iwan mengatakan dari semua jenjang, SD dan PAUD adalah yang paling rentan karena ketergantungan mereka terhadap orang dewasa sebagai pendamping sangat tinggi.

Pendapat Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan itu dibenarkan oleh Donny Krisetya, seorang guru Sekolah Dasar Negeri di lereng Gunung Merbabu, tepatnya di SDN 1 Ngadirojo, Kecamatan Gladasari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Donny Krisetya, S.Pd., Guru SD Negeri 1 Ngadirejo, Gladasari, Boyolali, Jawa Tengah

Donny Krisetya, S.Pd., Guru SD Negeri 1 Ngadirejo, Gladasari, Boyolali, Jawa Tengah

Donny mengatakan tantangan pertama yang dihadapinya dalam pembelajaran secara daring adalah kurang maksimalnya penyererapan materi oleh para siswa. “Anak didik yang kami layani masih berusia anak, antara enam sampai 13 tahun, di mana pembelajaran secara tatap muka tetap paling efektif,” ujarnya.

Lain Nganjuk lain lereng Gunung Merbabu, kendala kedua, tambahnya, adalah media pembelajaran.

“Tidak semua siswa di tempat kami mengajar memiliki ponsel dan jaringan internet,” ungkap Donny. “Terlebih lagi”, lanjutnya, “lokasi tempat tinggal para siswa banyak yang di pelosok kaki gunung sehingga tidak semua siswa dapat mengikuti materi pembelajaran secara daring dan masih banyak siswa yang terlambat dalam mengumpulkan tugas.”

Untuk mengatasi kendala demikian, Donny mengatakan bahwa pihak sekolah tempatnya mengajar mendorong keterlibatan orang tua murid untuk mendampingi anak-anak mereka selama masa krisis pandemi sekarang. Sekolah juga mengajak keterlibatan perangkat desa, sampai ke tingkat RT untuk mendukung dan memfasilitasi proses belajar mengajar.

Para siswa SD Negeri 1 Ngadirojo, Gladasari, Boyolali menyimak pelajaran dari guru yang disiarkan lewat HT (foto: courtesy).

Para siswa SD Negeri 1 Ngadirojo, Gladasari, Boyolali menyimak pelajaran dari guru yang disiarkan lewat HT (foto: courtesy).

“Untuk mengatasi hal tersebut, kami bekerja sama dengan para perangkat desa terutama para RT untuk melakukan pembelajaran melalui HT. Kebetulan di daerah sini tiap ketua RT difasilitasi HT. Jadi, kami meminta bantuan ke tiap-tiap ketua RT yang memiliki warga anak usia sekolah dasar, bukan hanya siswa dari SD kami, untuk bisa menyediakan tempat dan HT untuk anak-anak bisa mengikuti pembelajaran lewat HT,” ujar Donny.

Untuk sementara, kata Donny, para guru di SD itu melakukan siaran pembelajaran dengan penjadwalan per hari satu kelas, sambil terus berusaha keras mendorong keterlibatan semua pihak demi untuk memberikan yang terbaik bagi peserta didik.

Minimnya Infrastruktur Bayangi Pendidikan di Papua

Sementara itu, kondisi pembelajaran daring di Papua merupakan tantangan tersendiri, terutama di daerah-daerah terpencil dengan infrastruktur yang sangat minim.

Anggi Crestamia adalah seorang guru relawan dari program Indonesia Mengajar yang tengah mengabdi di Kepulauan Yapen, Papua. Diwawancarai VOA beberapa waktu lalu, dia menyatakan kekhawatiran akan nasib pendidikan murid-muridnya. Jangankan smartphone dan laptop, listrik pun belum mengalir di desa tempatnya mengajar.

Untuk sementara, Anggi dan guru-guru lain berusaha memberikan pelajaran melalui media radio. Untuk itu, setiap hari pelajaran disiarkan melalui Radio Republik Indonesia setempat. “Dari RRI itu sendiri memberikan waktu kepada guru-guru untuk mengajar via radio, begitu. Jadi itu mungkin salah satu solusi pertama.”

Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Iwan Syahril, Ph.D. menyadari semua keterbatasan dan tantangan yang dihadapi oleh para guru, terutama mereka yang bertugas di tempat-tempat terpencil. Dia menekankan bahwa mengingat keadaan darurat selama pandemi yang berakibat pada melambatnya seluruh ekosistem kehidupan, para guru tidak perlu khawatir untuk melakukan penyesuaian.

“Pembelajaran,” tambahnya, “boleh disesuaian dengan apa yang relevan dalam konteks sekolah dan lain-lain.”

“Mas Menteri sudah mengeluarkan surat edaran supaya guru-guru tidak usah takut jika tidak tuntas kurikulumnya. Biasanya kan sekuensnya sudah jelas dan coverage-nya juga semua topik harus dicover, sedangkan dalam kondisi pandemi ini laju pembelajaran itu lambat,” pungkasnya. [lt/em]



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Mulai dijual 22 Oktober, harga POCO X3 NFC di Indonesia hanya Rp 3 jutaan

Jum Okt 16 , 2020
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. POCO X3 NFC akhirnya resmi masuk ke pasar Indonesia. Sesuai dugaan banyak orang, harga POCO X3 NFC di Indonesia benar-benar sangat terjangkau. Resmi diperkenalkan pada hari Kamis (15/10) malam, POCO X3 NFC hadir dalam dua varian yang berbeda berdasarkan konfigurasi penyimpanannya. Varian pertama dengan RAM 6GB dan memori internal 64GB. Harga POCO X3 NFC dengan varian ini dibanderol mulai dari Rp 3.099.000.  Sedangkan varian kedua menggunakan kapasitas RAM […]