Bangladesh Mulai Alihkan Pengungsi Rohingya ke Pulau Rawan Bencana


Bangladesh, Kamis (3/12), mulai mengalihkan beberapa ratus pengungsi Rohingya ke sebuah lokasi yang dikhawatirkan PBB dan kelompok-kelompok HAM sebagai pulau dataran rendah yang rawan diterjang topan dan banjir.

Hampir satu juta orang Rohingya — yang sebagian besar melarikan diri dari serangan militer di Myanmar pada 2017 – kini tinggal di kamp-kamp jorok yang bertebaran di wilayah tenggara Bangladesh.

Karena banyaknya pengungsi yang menolak pulang ke negara asal mereka tanpa jaminan keamanan dan hak-hak mereka, dan karena munculnya geng-geng narkoba yang kejam dan para ekstremis di wilayah itu, pemerintah Bangladesh semakin tidak sabar untuk membersihkan kamp-kamp tersebut.

Pada hari Kamis (3/12), setidaknya 10 bus meninggalkan kamp di wilayah Cox’s Bazar, menuju kota pelabuhan Chittagong, kata polisi.

“Sepuluh bus yang membawa sekitar 400 telah berangkat ke pulau itu,” kata kepala polisi setempat Ahmed Sunjur Morshed kepada AFP.

Dari Chittagong para pengungsi akan dibawa dengan kapal militer ke Pulau Bhashan Char pada hari Jumat, kata sejumlah pejabat.

Sebelumnya para pejabat itu mengatakan kepada AFP bahwa mereka berencana untuk memindahkan sekitar 2.500 orang ke pulau dataran rendah itu pada tahap pertama.

Puluhan bus lainnya disiagakan di kamp-kamp di wilayah Cox’s Bazar itu, kata seorang wartawan AFP dari lokasi kejadian.

Namun, tidak jelas apakah akan ada lebih banyak pengungsi yang naik bus-bus itu. Kelompok-kelompok HAM menuduh bahwa beberapa pengungsi telah dipaksa menjadi sukarelawan untuk dipindahkan.

Bhashan Char, yang memiliki luas 52 kilometer persegi, adalah salah satu dari beberapa pulau yang muncul di kawasan tersebut dalam beberapa dekade terakhir.

Pengungsi Rohingya naik perahu saat mereka pindah ke sebuah kamp di Cox's Bazar, Bangladesh, 2 Oktober 2017. (Foto: Reuters)

Pengungsi Rohingya naik perahu saat mereka pindah ke sebuah kamp di Cox’s Bazar, Bangladesh, 2 Oktober 2017. (Foto: Reuters)

Angkatan Laut Bangladesh telah membangun sejumlah tempat penampungan di sana untuk setidaknya 100 ribu pengungsi Rohingya, dan tanggul setinggi tiga meter untuk mencegah banjir.

Namun, penduduk setempat mengatakan air pasang membanjiri pulau itu beberapa tahun yang lalu. Mereka juga mengatakan, topan yang sering terjadi di wilayah tersebut dapat memicu gelombang pasang setinggi empat hingga lima meter.

Kantor PBB di Bangladesh mengeluarkan pernyataan singkat, Kamis (3/12), yang mengatakan pihaknya “tidak terlibat” dalam proses relokasi itu dan hanya diberi “informasi yang terbatas”.

Pernyataan itu menyebutkan, PBB tidak diizinkan untuk mengevaluasi “keamanan, kelayakan, dan keberlanjutan” pulau itu sebagai tempat tinggal.

Pernyataan tersebut juga mengungkapkan, para pengungsi “seharusnya dapat membuat keputusan yang bebas dan terinformasi tentang relokasi itu” dan bahwa, begitu sampai di sana, mereka harus memiliki akses ke pendidikan dan perawatan kesehatan, dan dapat meninggalkan pulau itu jika mereka mau. [ab/lt]



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

PBB dan Ethiopia Tandatangani Kesepakatan Akses Bantuan ke Tigray

Kam Des 3 , 2020
Sebulan setelah konflik mematikan memutus wilayah Tigray di Ethiopia dari dunia, PBB, Rabu (2/12) malam, mengatakan badan dunia itu dan pemerintah Ethiopia telah membuat terobosan penting, Mereka telah menandatangani kesepakatan untuk memungkinkan terciptanya akses-akses kemanusiaan “tanpa hambatan”, setidaknya untuk kawasan-kawasan yang berada di bawah kendali pemerintah federal setelah perdana menteri negara itu mendeklarasikan kemenangannya akhir pekan lalu. Mengkonfirmasi rincian-rincian kesepakatan itu di Markas Besar PBB di New York, Juru Bicara […]