AS Jatuhkan Sanksi Terhadap Rusia Terkait Peracunan Navalny



Untuk pertama kalinya pemerintahan Presiden Joe Biden, Selasa (2/3), mengambil tindakan untuk menghukum Rusia.

Beberapa sanksi dijatuhkan terhadap sejumlah pejabat senior pemerintah Rusia atas apa yang menurut pemerintah Biden sebagai peran mereka dalam percobaan pembunuhan politisi dari kelompok oposisi, Alexei Navalny. Namun, AS tidak menjatuhkan sanksi terhadap Presiden Vladimir Putin,

Sanksi-sanksi, yang oleh sebagian pakar dinilai sebagai simbolik semata, dikoordinasikan dengan Uni Eropa yang memang telah mengambil tindakan terhadap sejumlah pejabat Rusia terkait kasus Navalny itu.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan pihaknya akan menanggapi sanksi Amerika itu dengan tindakan serupa.

“Kami mengirim sinyal jelas pada Rusia bahwa ada konsekuensi terhadap penggunaan senjata kimia itu,” ujar seorang pejabat senior pemerintah Biden.

“Saya memahami bahwa satu-satunya hal yang dapat dilakukan pemerintah ini adalah mengirim sinyal,” ujar Prof. Konstantin Sonin, seorang ekonom Rusia yang mengajar di Universitas Chicago.

“Ini memang sinyal yang kuat, tetapi ini hanya sinyal, bukan sesuatu yang berdampak langsung,” tambahnya.

Di antara mereka yang dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan Amerika adalah Direktur Badan Intelijen Rusia FSB Alexander Bortnikov, Kepala Direktorat Kebijakan Dalam Negeri Andrei Yarin, dan dua Wakil Menteri Pertahanan yaitu Alexey Krivorucho dan Pavel Popov.

Pejabat-pejabat Amerika juga mendeklasifikasi temuan intelijen yang menilai bahwa salah satu badan intelijen yang terlibat insiden racun itu adalah badan intelijen terkemuka, FSB.

“Bentuk dan jenis hubungan yang ingin dimiliki Presiden Biden dan Presiden Putin akan sangat berbeda dari pemerintahan sebelumnya,” ujar juru bicara Gedung Putih Jen Psaki, Selasa (2/3).

Menanggapi pertanyaan VOA tentang kerja sama kedua negara dalam upaya mengurangi rudal nuklir, proliferasi oleh Iran dan perang di Suriah, Psaki menjawab “ada bidang yang kami tidak setujui, ada bidang di mana ada tantangan yang signifikan, ada juga bidang di mana kami akan bekerjasama dengan Rusia – seperti yang kami lakukan dengan sebagian besar mitral global.” [em/an]



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Kedatangan 10 Juta Dosis Vaksin Untuk Mencukupi Kebutuhan Vaksinasi Tahap 2 - Berita Terkini

Rab Mar 3 , 2021
Kedatangan 10 Juta Dosis Vaksin Untuk Mencukupi Kebutuhan Vaksinasi Tahap 2 03 Mar 2021 Foto oleh Damar – Medcom JAKARTA – Pemerintah  memastikan kebutuhan vaksin Covid-19 untuk program vaksinasi di Indonesia tercukupi dengan kedatangan lagi vaksin Sinovac dari Beijing, Republik Rakyat Tiongkok. Pemerintah hari ini menerima kedatangan bulk (bahan baku) vaksin Sinovac sebanyak 10 juta dosis. Dan sejauh ini, total vaksin yang sudah diterima mencapai 38 juta dosis, terdiri dari […]