Apakah Trump Kebal terhadap Virus Corona? Mungkin Iya, Mungkin Tidak


Pada hari yang sama Presiden Donald Trump mengatakan dirinya terlindung dari virus corona setelah terjangkit Covid-19, sejumlah ilmuwan menunjukkan bahwa seseorang bisa tertular virus itu dua kali.

“Saya sudah melewati penyakit ini. Kini mereka (tim dokter.red) mengatakan saya kebal,” ujar Trump ketika berkampanye di Florida, Senin (12/10). “Saya merasa begitu kuat,” tambahnya.

Namun, dalam sebuah studi baru para ilmuwan merinci kasus seorang laki-laki Nevada yang hasil tesnya menunjukkan positif mengidap virus corona, lalu sembuh, dan beberapa minggu kemudian kembali tertular virus itu.

Bukti itu tidak saja menimbulkan pertanyaan soal seberapa lama kekebalan tubuh pasien yang sebelumnya terjangkit virus ini dapat bertahan, tetapi juga meningkatkan kemungkinan bahwa vaksin belum tentu akan memberi perlindungan yang bersifat permanen.

“Benar-benar tidak bertanggung jawab ketika presiden menyatakan dirinya kebal dari Covid-19,” ujar Andrew Pavia, Kepala Divisi Penyakit Menular pada Kesehatan Anak di Universitas Utah. “Bukan sesuatu yang dapat kita katakan begitu saja tanpa dukungan ilmiah apapun,” tegasnya.

Mungkinkah Tertular Lagi?

Dalam jurnal The Lancet Infectious Diseases para ilmuwan menggambarkan kasus seorang laki-laki berusia 25 tahun yang tertular virus corona dalam dua kesempatan terpisah, dengan selisih waktu enam minggu.

Presiden AS Donald Trump melempar masker dari panggung dalam kampanye pertamanya sejak dirawat karena terinfeksi virus corona (COVID-19) di Bandara Internasional Orlando Sanford di Sanford, Florida, Senin, 12 Oktober 2020. (Foto: Reuters)

Presiden AS Donald Trump melempar masker dari panggung dalam kampanye pertamanya sejak dirawat karena terinfeksi virus corona (COVID-19) di Bandara Internasional Orlando Sanford di Sanford, Florida, Senin, 12 Oktober 2020. (Foto: Reuters)

Pertama, pada Maret lalu, laki-laki itu mengalami radang tenggorokan, batuk, sakit kepala, pusing dan diare. Dalam tes di sebuah acara komunitas di Reno pada 18 April, ia diketahui positif mengidap Covid-19. Pada April, ia dinyatakan tidak menunjukan gejala apapun. Dua tes yang dilakukan pada Mei menunjukkan ia negatif Covid-19.

Namun, pada akhir Maret, ia kembali jatuh sakit. Kali ini jauh lebih buruk dibanding sebelumnya. Ia harus dirawat di rumah sakit dan membutuhkan alat bantu pernapasan. Inilah saat ketika kasus ini menarik perhatian Mark Pandori, Direktur Laboratorium Kesehatan Publik di Nevada, yang sekaligus ikut mengkaji studi baru ini.

“Kami waspada akan hal ini,” ujar Pandori.

Pada awal pandemi ini, ujarnya, ia dan mitra-mitranya memahami bahwa isu kemungkinan tertular kembali virus ini merupakan salah satu dari banyak pertanyaan besar yang menghantui para petugas kesehatan.

Ketika nama pasien kembali muncul dalam arsip sistem kesehatan publik untuk kedua kalinya, mereka kembali mengkaji hasil uji medis pertamanya dan membandingkan kode genetik kedua virus. Mereka melihat dua varian berbeda.

Kasus Keempat

Kasus di Nevada itu merupakan kasus pertama yang mengonfirmasi seorang pasien tertular untuk keduakalinya. Namun, kasus-kasus lain yang telah dikonfirmasi juga dilaporkan dari Hong Kong, Belgia, dan Ekuador, serta beberapa kasus dugaan lainnya.

Meskipun baru empat kasus yang dikonfirmasi, belum jelas apakah ini merupakan hal biasa.

“Meskipun tampaknya jarang, kita masih benar-benar belum mengetahui karena kita tidak berada di sana untuk mengkaji hal itu secara seksama,” ujar Pandori.

Perawat Sarvnaz Michel (28 tahun) sedang merawat seorang pasien Covid-19 di Rumah Sakit St. Jude Medical Center, di Fullerton, California, 10 Juli 2020. (Foto: AP)

Perawat Sarvnaz Michel (28 tahun) sedang merawat seorang pasien Covid-19 di Rumah Sakit St. Jude Medical Center, di Fullerton, California, 10 Juli 2020. (Foto: AP)

Belum jelas mengapa kondisi kesehatan pasien di Nevada itu memburuk untuk kedua kalinya. Pasien pertama yang juga tertular kembali untuk kedua kalinya dilaporkan terjadi di Hong Kong, dan pada penularan kedua ia tidak menunjukkan gejala apapun.

“Kasus di Hong Kong membuat kita berharap bahwa penularan untuk kedua kalinya tidak seburuk yang pertama,” ujar Rajesh Gandi, dokter penyakit menular di Harvard Medical School. Rajesh juga salah seorang perancang pedoman perawatan pasien Covid-19 di National Institutes of Health dan Masyarakat Penyakit Menular di Amerika. Ia tidak ikut ambil bagian dalam penelitian baru-baru ini.

“Mungkin pasien di Nevada terpapar virus yang lebih kuat ketika tertular untuk kedua kalinya,” ujar Gandhi. “Atau mungkin ada sesuatu dalam sistem kekebalan tubuhnya yang tidak memperbolehkan tubuhnya melawan penyakit itu untuk kedua kalinya.”

Ditambahkannya, para ilmuwan belum menemukan jawabannya.

Satu kemungkinan lainnya adalah virus kedua berbeda dengan yang pertama. “Ini tampaknya hampir tidak mungkin,” ujar Pavia, ilmuwan di Universitas Utah, “Namun, kami setiap hari mempelajari hal baru dan ini membuat kami lebih hati-hati.”

Kekebalan Sementara

Sebagian virus membuat pasien memiliki kekebalan seumur hidup setelah ia terjangkit, tetapi lainnya tidak. Virus penyebab Covid-19 merupakan bagian dari keluar besar virus corona, termasuk di antaranya adalah penyebab flu biasa. Kekebalan terhadap virus ini berkurang setelah satu atau dua tahun.

Para pakar mengatakan semakin banyaknya bukti tentang kemungkinan terjangkit kembali virus ini menunjukkan bahwa kekebalan terhadap virus corona penyebab Covid-19 mungkin bersifat sementara.

Para petugas medis antre mendapatkan alat pelindung diri gratis di Rumah Sakit Jackson Memorial, Miami, 22 September 2020. (Foto: AP)

Para petugas medis antre mendapatkan alat pelindung diri gratis di Rumah Sakit Jackson Memorial, Miami, 22 September 2020. (Foto: AP)

Pavia mengatakan hal ini bertentangan dengan strategi yang dikenal luas sebagai “herd immunity” atau kekebalan kelompok dalam menghadapi pandemi, yang memungkinkan virus menyebar ke seluruh populasi tanpa terkendali untuk kemudian memicu terbentuknya kekebalan secara lebih cepat. Sebagian penasehat kesehatan Trump merekomendasikan pendekatan ini.

“Sekalipun seluruh penduduk mengembangkan kekebalan alamiah, namun strategi itu akan menelan jutaan dan jutaan kematian; dan seiring perjalanan waktu, kekebalan itu akan memudar,” ujar Pavia. “Virus ini dapat kembali lagi.”

Kajian ini juga menunjukkan bahwa “dengan vaksin virus corona yang cukup efektif sekali pun, pemberian vaksin masih harus diulang dari tahun ke tahun,” tambahnya.

Pandori di Nevada lebih optimis. Ia mengatakan vaksin bekerja berbeda dibanding penularan alami.

“Meskipun ada berita buruk bahwa mungkin sistem tubuh kita diperdaya oleh hal ini, kami masih memiliki alasan kuat untuk percaya bahwa vaksinasi akan menang,” ujarnya.

Sementara itu, ujarnya, masyarakat yang sudah sembuh dari Covid-19 harus tetap waspada. Meskipun mereka terinfeksi kembali dan tidak menunjukkan gejala, belum jelas apakah mereka masih dapat menjangkiti orang lain atau tidak.

“Tentu saja tidak ada kekebalan,” ujarnya, “kita tidak hanya harus melindungi diri kita sendiri, tetapi juga melindungi orang-orang di sekitar kita. Kita harus tetap waspada dan berperilaku seolah-olah kita belum pernah terjangkit virus ini.” [jm/em/pp]



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

3.517 Wartawan Lolos Seleksi Fellowship Perubahan Perilaku - Berita Terkini

Rab Okt 14 , 2020
Dewan Pers Jakarta 14 Oktober 2020 – Sedikitnya 3.517 wartawan dari seluruh Indonesia lolos seleksi Fellowship Jurnalisme Perubahan Perilaku yang diselenggarakan Dewan Pers dan Satuan Tugas Penanganan Covid-19. Selanjutnya, para peserta akan mendapatkan pembekalan melalui lima kelas virtual pada hari Rabu (14/10) ini. Agus Sudibyo, anggota Dewan Pers yang juga Ketua Tim Kerja FJPP mengatakan, animo jurnalis untuk mengikuti program ini sangat tinggi, terlihat dari pendaftar yang mencapai 4.963 orang […]