Ancaman Gelombang ke-3 COVID di Afrika ‘Nyata dan Meningkat’

Genre: News
Dilihat: 0 views


“Ancaman gelombang ketiga” COVID-19 di Afrika “nyata dan meningkat,” kata Dr. Matshidiso Moeti, direktur regional Afrika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dalam konferensi pers virtual hari Kamis (3/6).

“Sementara banyak negara di luar Afrika kini telah memvaksinasi kelompok-kelompok prioritas tinggi mereka dan bahkan mampu mempertimbangkan vaksinasi untuk anak-anak mereka, negara-negara Afrika bahkan tidak dapat menindaklanjuti dengan dosis kedua untuk kelompok-kelompok berisiko tinggi,” kata Moeti. Ia mendesak “negara-negara yang telah mencapai jangkauan vaksinasi yang signifikan agar memberikan bantuan vaksin dan menghindarkan sebagian besar warga rentan Afrika dari perawatan kritis.”

The New York Times melaporkan bahwa migran di Italia tidak mendapatkan vaksinasi COVID-19, meskipun pemerintah telah menyatakan bahwa setiap orang berhak atas vaksin itu, apapun status hukum mereka.

The Times menyatakan kartu jaminan sosial diperlukan untuk mendaftarkan diri guna mendapatkan vaksinasi, tetapi hanya tiga dari 20 wilayah Italia yang mengakui kartu sementara “yang diberikan kepada ratusan ribu migran.”

Dr. Marco Mazzetti, presiden Italian Society of Migration Medicine, mengatakan kepada surat kabar itu bahwa banyak di antara kaum migran itu adalah pramuwisma.

“Kalau kita tidak mengendalikan peredaran virus di kalangan orang-orang ini yang datang ke rumah untuk membantu kita, kita tidak mengendalikan peredaran virus di negara ini,” kata Mazzetti.

Kementerian Kesehatan India, Jumat (4/6), menyatakan telah mencatat 132.364 kasus baru virus corona dalam jangka 24 jam sebelumnya dan 2.713 kematian. India telah melaporkan 28,5 juta kasus COVID-19, menurut Johns Hopkins Coronavirus Resource Center. Hanya AS yang mencatat jumlah kasus lebih banyak, lebih dari 33 juta.

Dukungan Finansial COVAX

Terkait kabar lainnya mengenai pandemi, program WHO untuk mendapatkan dan mendistribusikan miliaran dosis vaksin COVID-19 untuk negara-negara termiskin di dunia telah menerima dukungan finansial yang besar.

Seorang pekerja menangani kotak vaksin COVID-19, yang dikirim sebagai bagian dari program distribusi vaksin COVAX yang adil, di Bandara Internasional Ivato, di Antananarivo, Madagaskar, 8 Mei 2021. (Foto: AFP)

Seorang pekerja menangani kotak vaksin COVID-19, yang dikirim sebagai bagian dari program distribusi vaksin COVAX yang adil, di Bandara Internasional Ivato, di Antananarivo, Madagaskar, 8 Mei 2021. (Foto: AFP)

Prakarsa COVAX menerima hampir 2,4 miliar dolar janji bantuan pada hari Rabu dalam sebuah KTT virtual yang diselenggarakan Jepang, yang mengemukakan janji bantuan terbesar, 800 juta dolar. Program ini juga menerima janji bantuan signifikan dari Kanada, Prancis, Spanyol dan Swedia.

COVAX telah menggalang 9,6 miliar dolar sejak pembentukannya.

Beberapa negara juga berjanji akan menyumbangkan jutaan dosis dari cadangan domestik mereka untuk COVAX, dengan Jepang yang menjanjikan jumlah terbanyak, 30 juta dosis.

COVAX adalah aliansi yang mencakup Coalition for Epidemic Preparedness Innovations dan Gavi, the Vaccine Alliance, organisasi yang didirikan Bill dan Melinda Gates untuk memvaksinasi anak-anak di negara-negara termiskin. Program tersebut sejauh ini telah mendistribusikan 77 juta dosis vaksin ke 127 negara, jauh di bawah janji awal untuk memberikan hingga 2 miliar dosis tahun ini.

Wakil Presiden AS Kamala Harris mengingatkan dalam KTT itu bahwa pemerintahan presiden AS Joe Biden telah menjanjikan total 4 miliar dolar bagi COVAX untuk tahun 2021-2022, tetapi ia tidak mengeluarkan janji baru tambahan bantuan finansial atau donasi vaksin. Presiden Biden telah berjanji akan mendonasikan 80 juta dosis dari persediaan vaksin COVID-19 AS. [uh/ab]



Source link

Diposting di News,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *