Alasan Keamanan, Tes Obat Covid-19 Eli Lilly Dihentikan Sementara


Satu lagi perusahaan farmasi menghentikan uji coba obat eksperimental untuk COVID-19 karena alasan keamanan.

Eli Lilly and Company yang berbasis di AS, Selasa (14/10) mengumumkan bahwa uji klinis obat antivirus coronanya telah dihentikan sementara oleh para pemantau independen “karena banyaknya peringatan,” tetapi tidak merinci hal itu.

Obat, yang dikembangkan Eli Lilly bersama dengan perusahaan bioteknologi AbCellera yang berbasis di Kanada, adalah bagian dari jenis pengobatan yang dikenal sebagai antibodi monoklonal, yang dibuat untuk menjadi sel-sel imun yang diharapkan para ilmuwan dapat melawan virus corona. Terapi antibodi ini serupa dengan yang diberikan kepada Presiden AS Donald Trump setelah ia dinyatakan positif terjangkit COVID-19 awal bulan ini.

Seorang peneliti menguji kandidat vaksin COVID-19 di laboratorium Eli Lilly di Indianapolis, Mei 2020. (Foto: David Morrison / Eli Lilly via AP)

Seorang peneliti menguji kandidat vaksin COVID-19 di laboratorium Eli Lilly di Indianapolis, Mei 2020. (Foto: David Morrison / Eli Lilly via AP)

Penelitian yang diluncurkan pada Agustus lalu itu bertujuan untuk mengikutkan 10 ribu pasien virus corona yang dirawat di rumah sakit di AS.

Ely Lilly mengajukan kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) untuk mendapat izin penggunaan darurat obat itu bagi kasus-kasus infeksi COVID-19 ringan hingga sedang berdasarkan hasil pendahuluan dari uji klinis lainnya.

Sehari sebelum penghentian itu, perusahaan farmasi Johnson & Johnson juga menghentikan uji klinis tahap akhir bagi vaksin eksperimentalnya setelah seorang partisipan didiagnosis dengan penyakit yang tidak disebutkan.

Johnson & Johnson baru saja meluncurkan uji berskala luas terhadap vaksi dosis tunggalnya yang melibatkan 60 ribu sukarelawan di lebih dari 200 lokasi di dalam dan di luar Amerika Serikat, termasuk di Argentina, Brazil, Chili, Meksiko dan Afrika Selatan.

Bank Dunia, Selasa (14/10) menyatakan telah menyetujui paket bernilai 12 miliar dolar untuk negara-negara berkembang membeli dan mendistribusikan vaksin, tes dan pengobatan COVID-19.

Sementara itu, harian The New Times dan The Washington Post menyatakan pemerintahan Trump telah menerapkan strategi kekebalan kelompok sebagai cara untuk menghentikan pandemi COVID-19.

Kekebalan kelompok terjadi sewaktu suatu populasi terlindungi dari virus karena ambang imunitas telah dicapai di tengah kelompok tersebut.

Kedua surat kabar itu menyatakan para pejabat senior anonim memberitahu wartawan hari Senin bahwa mereka menerapkan strategi yang memungkinkan penyebaran virus corona di kalangan generasi muda yang sehat sambil melindungi kalangan lansia dan populasi rentan lainnya untuk membuat ekonomi negara ini tetap berjalan.

Para pejabat itu mengutip petisi berjudul “Deklarasi Great Barrington” yang diposting di internet pada 4 Oktober, yang menentang PSBB dan mengabaikan pedoman ilmiah sekarang ini untuk menghentikan penyebaran COVID-19, termasuk mengenai penggunaan masker dan penerapan jarak sosial.

Petisi itu menyatakan strategi yang disebut “Perlindungan Terfokus” itu adalah “pendekatan paling baik yang menyeimbangkan risiko dan manfaat mencapai kekebalan kelompok.” Penulis utama deklarasi itu antara lain adalah Dr. Scott Atlas, ahli saraf yang menjadi salah seorang penasihat utama Trump mengenai pandemi COVID-19.

Penerapan kekebalan kelompok oleh pemerintahan Trump bertentangan dengan sikap Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebut strategi itu tidak etis.

Dirjen WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan kepada wartawan hari Senin di Jenewa bahwa para pejabat kesehatan seharusnya hanya mengupayakan kekebalan melalui vaksinasi, bukannya dengan membuat orang terpapar virus.

Otoritas kesehatan di Belanda, Selasa (14/10) menyatakan seorang perempuan berusia 89 tahun adalah kasus pertama yang diketahui mengenai seseorang yang meninggal setelah tertular COVID-19 untuk kedua kalinya. Para peneliti mengakui sistem kekebalan perempuan itu telah melemah karena perawatan yang ia terima karena kanker sumsum tulang belakang yang langka.

Kematian perempuan itu bersamaan waktunya dengan studi baru yang menunjukkan bahwa seseorang yang terinfeksi COVID-19 masih rentan terhadap penyakit. Suatu laporan yang diterbitkan hari Senin oleh jurnal medis The Lancet Infectious Diseases mengungkapnya seorang lelaki berusia 25 tahun di Nevada pertama kali terjangkit COVID-19 pada bulan April, dan kedua kali pada bulan Juni dengan simtom yang lebih parah yang membuatnya harus dibantu dengan oksigen.

Para peneliti menyatakan lelaki itu terinfeksi dua jenis virus corona yang berbeda, tetapi tidak tahu pasti mengenai infeksi kedua lebih buruk. Ia mungkin terpapar virus dalam dosis lebih tinggi untuk kedua kalinya, atau versi kedua itu lebih ganas daripada yang pertama. [uh/ab]



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Menlu AS Bela 12 Warga Hong Kong yang Ditahan China

Rab Okt 14 , 2020
Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo membela 12 warga Hong Kong yang ditangkap China sewaktu berusaha melarikan diri dengan perahu ke Taiwan Agustus lalu. Ia mengatakan, seluruh warga Hong Kong itu tidak melakukan kejahatan apapun. “Mereka hanya yakin berhak mendapat kebebasan dan memiliki hak untuk tidak diasingkan,” kata Pompeo dalam sebuah pidatonya yang disampaikan secara virtual, Rabu (14/10), pada Acara Penganugerahan Penghargaan Kebebasan John S. McCain. “Mereka tidak sendirian dalam […]