Adopsi teknologi membangun Masyarakat Berbudaya

  • Bagikan
banner 468x60


EKSEKUTIF.COM – Salah satu faktor penyebab perubahan sosial budaya yaitu dari internal seperti adanya perubahan jumlah penduduk, penemuan baru dari inovator, ada juga konflik pemberontakan. Sedangkan dari faktor eksternal dari lingkungan alam konflik peperangan juga bisa berpengaruh dan kontak dengan budaya lain atau akulturasi, asimilasi dan difusi.

banner 336x280

Dengan adanya Taliban, Afganistan sekarang memiliki sebuah budaya baru. Indonesia bahkan dunia pun mengalami budaya baru setelah adanya pandemi Covid-19 yaitu adaptasi kebiasaan baru. Cece Hidayat, Kepala Kantor Kementerian Agama kabupaten Garut mengatakan, dampak positif dari budaya digital ialah kelemahan manusia dapat diatasi seperti daya ingat, kecerdasan, berbagai penyakit disembuhkan, pencegahan, penuaan, penguatan imunitas, komunikasi cepat dan transportasi yang semakin mudah.

Misalkan sekarang banyak para wanita yang sudah mulai ada keriput di wajahnya melakukan operasi atau suntik untuk mencegah penuaan. Itu adalah bagian dari budaya teknologi, penguatan imunitas di saat pandemi ini juga melalui digital dengan berbagai hiburan juga interaksi di dunia digital.Komunikasi cepat dan transportasi mudah, sekarang jika ingin pindah ke tempat lain hanya dengan gawai kita saja kita sudah bisa memesan sepeda motor ataupun mobil.

“Kemampuan manusia ditingkatkan, indra manusia semakin canggih konon memiliki ingatan yang panjang. Generasi masa depan akan bisa berkomunikasi seperti telepati teknologi membuat kita yang jauh dari rumah bisa melihat anak kita di rumah sedang apa karena adanya CCTV. Rumah kita aman atau tidak, jangkauan kita semakin panjang tidak ada batasnya,” jelasnya dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu (1/9/2021) pagi 1.

Dunia semakin transparan, apa pun yang terjadi di belahan bumi lain bisa segera diketahui, solidaritas di belahan dunia bisa dilakukan. Untuk dampak negatifnya dari peradaban budaya digital ialah kini kita akan sulit membedakan fakta, fiksi dan hoaks tanpa sadar sering tertipu dengan gambar, video. Sulit membedakan mana fakta atau berita bohong apapun yang menarik perhatian langsung viral dan sensational dan akhirnya hal negatif disadari setelah di-upload.

“Kehidupan pribadi pun terbuka, sensasi pribadi semakin menarik semakin terbuka dan disadari atau tidak banyak waktu terbuang karena orang semakin sibuk dengan HP, melakukan chatting, berinteraksi di media sosial sehingga waktu energi kita disembuhkan dengan hal-hal yang tidak berguna,” tuturnya.

Jadi membangun budaya digital adalah dengan memahami batasan kebebasan berekspresi dengan renungan akan ada dampak berupa cyberbullying, ujaran kebencian, pencemaran nama baik atau provokasi yang mengarah pada perpecahan. Masyarakat digital harus bisa membedakan antara misinformasi, disinformasi dan informasi juga untuk diri sendiri dan orang lain juga harus tahu mana yang privasi diri sendiri, privasi orang lain juga untuk apa yang bisa atau boleh di share di publik.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu (1/9/2021) pagi 1, juga menghadirkan pembicara Anthony Sudarsono (CEO First Class Property), Aprida Sihombing (dosen Institut Bisnis dan Komunikasi LSPR), Ismita Saputri (pengusaha, podcaster, dosen), dan Kila Zhafira sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 1 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini



Source link

!-- Composite Start -->
  • Bagikan